Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Ritual Alternatif Pergantian Tahun

1 Komentar

Berdedikasi dalam karya

Tahun baru dimulai. Kadang orang memandang tahun baru ini identik dengan sebuah perayaan, tanpa tahu dan tidak memandang penting apa yang mesti dirayakan. Tiada hikmah yang dicoba untuk dipetik dari pelbagai fenomena, tak ada juga kepedulian pada sesama.

Masyarakat miskin dan tidak beruntung kian tidak percaya dengan nilai–nilai kebersamaan, sebab ketika mereka lapar ternyata tetanggganya ada yang berpesta. Mereka kian bertele–tele dalam penderitaannya sehingga harapan mereka tinggal keyakinan nikmat “akherat”. Sebab kenikmatan dunia sudah dibajak oleh orang–orang yang tak menerapkan nilai kepedulian pada sesama. Dan bagi yang tidak berkeyakinan, mereka bagai kucing lapar yang ganas yang siap merampas kenikmatan dengan cara mereka sendiri. Banyak daerah kebanjiran di musim penghujan, sementara di musim kemarau, bencana kekeringan dan kebakaran hutan datang menerpa. Masyarakat kian tidak punya pilihan untuk dipercaya menjadi pemimpinnya. Wibawa dan kharismatika tidak lagi sepenuhnya meyakinkan mereka, sebab dibutuhkan sosok pemimpin yang benar–benar pendekar yang mampu membasmi kejahatan.

Ironi memang, banyak orang mengatakan perayaan tahun baru sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat-Nya. Sementara mereka terhalangi nalurinya untuk mengkorelasikan rasa syukur dengan keadaan sekelilingnya dan juga terhadap nilai–nilai kepekaan sosial. Tatkala pelbagai bencana dalam skala luas tengah melanda seperti saat ini, yakni banjir di kantong–kantong perumahan kumuh di kota–kota besar, badai dan tanah longsor, serta betapa sulitnya sebagian orang yang tak beruntung dalam hidupnya untuk sekedar mengenyangkan perutnya, masih juga belum bisa membukakan naluri orang untuk memperbaiki dialektikanya dalam bersyukur. Mungkin sekali lagi, kita butuh bencana dalam skala tsunami Aceh di tempat lain agar semua membelalakkan mata. Bahwa kita harus bertanya pada diri kita sendiri, sudah benarkah cara bersyukur kita?

Jangan mengandalkan para penguasa atau penyandang legitimasi rakyat, karena sebagian besar dari mereka adalah orang–orang yang “terlalu sejahtera”. Mereka kadang terlalu jauh untuk bisa menggapai rasa penderitaan rakyatnya. Kita mulai dari diri kita dan keluarga, dan lambat laun merembet pada kesadaran orang–orang disekeliling kita. Kita tumbuhkan nilai kesadaran bersama dan nilai–nilai empati terhadap orang–orang yang belum beruntung dalam momen pergantian tahun baru 2008. Kita tanamkan pengertian dan kepekaan sosial pada generasi sesudah kita. Agar mereka kelak selalu punya dialektika syukur yang benar dalam kehidupannya. Bukan syukur yang selalu diidentikkan dengan kemasan acara berbau hedonisme belaka.

Kita bangun bersama sebuah harapan, karena harapan adalah obat paling manjur dalam setiap keterpurukan. Ketika Pandora, wanita pertama di dunia dalam mitologi Yunani membukakan kotak hadiah bagi suaminya, berhamburanlah pelbagai hal buruk ke dunia, kecuali harapan. Pandora buru-buru menutup kotak itu agar harapan tidak ikut keluar dan jatuh di dunia. Karena rupanya Ia diciptakan untuk meghukum dunia dan tidak menghendaki manusia selamat dan bahagia. Pandora benar–benar tahu bahwa harapan adalah obat manjur bagi manusia yang sedang tertimpa masalah dan keterpurukan. Mari kita jadikan tahun 2007 sebagai renungan dan pelajaran, dan kita jadikan tahun 2008 penuh kebersamaan untuk menumbuhkan harapan.
*) By Saiful Ghozi, S.Pd ( Guru di YP Sari Lestari PT SBK Kalbar)

**) Artikel termuat di Pontianak Post 2 Januari 2008

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

One thought on “Ritual Alternatif Pergantian Tahun

  1. yang bisa melihat secara langsung penderitaan rakyat adalah para tetangganya. Karena merekalah orang yang paling dekat..tetapi apakah mereka peduli? bisa ia bisa tidak. Kebanyakan tidak peduli dan lebih mementingkan diri sendiri..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s