Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Menyoal Perjuangan Guru Melawan Ujian Nasional 2010

5 Komentar

Oleh: Eddy Soejanto*)

Salah satu kesalahan ditengarai menjadi penyebab merosotnya mutu pendidikan nasional adalah penyelenggaraan pendidikan nasional yang dilakukan secara birokratik-sentralistik (MPMBS, edisi-3) Sekolah banyak berfungsi sebagai penampung juklak-juknis keputusan birokrasi yang sering tidak sesuai dengan kondisi sekolah tersebut. Ujung-ujungnya sekolah menjadi kehilangan kemandirian, motivasi dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional.

Upaya perbaikan atas kenyataan tersebut dijalankan dengan dukungan suasana kondusif berupa penetapan otonomi daerah di bidang pendidikan dan kebudayaan, yang berimplikasi antara lain pada penyelenggaraan otonomi pengelolaan pendidikan dan otonomi sekolah, sehingga mencegah terulangnya penyelenggaraan pendidikan nasional secara birokratik-sentralistik.

Meskipun seperti itu pola pikir dan harapan para penggagas KTSP, sekolah tetap tidak akan mungkin melenyapkan hegemoni pemerintah. Otonomi sekolah yang konon sempurna apabila berpedoman pada Manajemen Berbasis Sekolah ternyata baru terselenggara dalam banyak wacana. Ini terungkap pada pagelaran gagasan demi gagasan apik dalam panggung seminar. Bahwa sudah mulai diketemukan munculnya kembali fenomena birokratik-sentralistik baru di daerah berkat diperolehnya otonomi daerah tersebut (Prof. Dr. Mudjiarto, M.Pd, Otonomi Sekolah dan Prospek Pelaksanaan Model MBS, 2004 )

Jadi, jika tiba-tiba terjadi kasus di mana suatu kebijakan pemerintah ditolak oleh pihak sekolah, apakah gejala ini layak disebutkan sebagai perwujudan mimpi lama tentang otonomi sekolah dan tercegahnya penyelenggaraan pendidikan secara birokratik-sentralistik?

Cobalah kita segarkan ingatan sejenak kepada seorang Ibu Guru Nurlaila yang berjuang membela murid-muridnya di SMP 56 Jakarta dalam kasus ruilslag bangunan sekolah, ganjarannya jelas menyakitkan. Beliau diberhentikan dengan tidak hormat sebagai pegawai negeri sipil.

Atau belum juga terhapus dari ingatan tentang betapa kerasnya gerakan para aktivis LSM pendidikan, para praktisi dan ahli pendidikan serta kalangan DPR menginginkan UAN segera dihabisi. Tetapi, dalam suasana empati pasca tsunami Aceh, kita malah terusik perih oleh pencerminan arogansi eksekutif dengan keputusan Mendiknas tentang pelaksanaan UAN yang diganti namanya dengan Ujian Nasional (UN) tahun 2005. (Kompas, 20 Januari 2005 ).

Kasus lain di Bandung tahun 2007. Penjatuhan hukuman disiplin berupa penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun terhadap Iwan Hermawan, S.Pd guru SMA Negeri 9 Kota Bandung Sekretaris Jenderal DPP FGII. Karena dituduh menyebarkan berita kebocoran Ujian Nasional.
Catatan-catatan kegagalan para guru dan stakeholders pendidikan dalam upaya memenangkan tuntutan mereka tersebut semakin memperjelas pemahaman kita akan ungkapan sinis pemerintah kok dilawan! Dan fenomena birokratik-sentralistik masih tetap akan berdiri kokoh menjaga gawang kekuasaan pemerintah (Depdiknas).

Jadi, guru dan atasan guru, coba tolak UN 2010 kalau berani! Dan kalau tak berani, cobalah hadapi UN 2010 dengan jujur dan steril dari kecurangan-kecurangan, supaya tidak terulang kembali kasus seperti yang terjadi di 33 SMA dengan hasil tidak lulus 100% itu.

*)Eddy Soejanto adalah pemerhati pendidikan.

DIarsipkan di bawah: UN 2009, artikel, berita, catatanku, diskriminasi, evaluasi, forum, guru, guru swasta, jejaring, kompetensi, pembelajaran, pendidikan, sekolah | Ditandai: artikel, catatanku, diskriminasi, forum, gagasan, Guru Indonesia, guru swasta

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

5 thoughts on “Menyoal Perjuangan Guru Melawan Ujian Nasional 2010

  1. Mengakrabi dunia pendidikan, bahkan menghanyutkan diri dalam dunia pendidikan, menjadikan hati ini trenyuh melihat wajah-wajah memelas anak-anak muda yang semestinya penuh keceriaan. UN, RSBI, SBI, MBI (DEPAG), dan yang sejenisnya tidak menyelesaikan masalah pendidikan. Yang terjadi justru kecemburuan antara sekolah reguler dan RSBI, SBI, atau MBI. Lha kita punya anak kok ya dibeda-bedakan karena si anak mampu dan tidak mampu, pintar dan tidak pintar. Seharusnya justru kita memberdayakan anak-anak yang tidak mampu dan tidak pintar?!?

  2. meski terlambat komentar balik… itu salahsatu aspirasi yg patut diperhitungkan.
    namun memang kemujan pendidika butuh terobosan pak….
    bagi yang punya kelebihan harus ada wadah….
    thanks bgt atas komennya…

  3. men nadzrotil waaqi’ah.nahnu fel muhawalah li taqoddumi el-baldah,mukhossos fe nahiyatel tarbawiyyah.

  4. all things will be better while it were working hard and pray to our god (the creator and the lord of the world)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s