Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Berpetualang dan berkarya di Kalimantan, kenapa tidak?? ( bag 2)

3 Komentar

Lanjutan dari bag 1:

Begitu kapal Senopati Nusantara merapatkan badannya di pelabuhan Pontianak, sejenak aku terjebak dikeramaian pelabuhan yang penuh dengan hiruk pikuk penumpang yang baru turun dari kapal. Ditambah lagi serbuan penawar berbagai jasa mulai “portir” ( istilah keren dari tukang angkut ) tukang ojek, ataupun kenek oplet.

 

Berpura – pura tidak butuh jasa ojek, sok tahu keadaan dan pura – pura menunggu seseorang adalah strategi yang jitu untuk menepis desakan penawar jasa ojek yang tidak henti – hentinya silih berganti bertanya ” mau kemana bang?” dengan logat melayunya yang kental. Mereka belum puas kalau kita belum menjawab. Aku berusaha cermat menguasai keadaan di tempat baru ini. Kalau tiba – tiba aku ditodong penjahat, atau di jambret HP dan dompet di tengah jalan ??? gak kebayang deh bagaimana nasib perjalananku!

Intinya, menguasai keadaan di tempat yang asing memerlukan ketenangan. Jika terlihat gugup, bingung dan bertanya tanpa teliti siapa yang kita tanya, tentu menjadi sasaran yang empuk bagi sebagian preman pelabuhan yang hafal gelagat calon mangsanya. Dimana – mana karakter tempat seperti itu biasanya sama. Kuncinya tenang dan waspada.

Tidak semua para pencari nafkah di pelabuhan itu seperti preman, tapi tenang, waspada dan berpikir positif adalah perlu. Kalo ada apa – apa, kita paling cuman buat laporan di kepolisian. Capek deh…Semoga tidak terjadi pada kita smua. Aminnnn….

Dulu, terjebak sendirian di statsiun kereta api sampai tengah malam karena kereta terlambat, hingga menjadi penumpang tunggal dalam satu gerbong kereta tanpa lampu malam hari dari malang ke Blitar adalah hal yang sering kualami semasa kuliah di Malang. Sampai aku pernah dikerubuti waria yang beroperasi di stasiun. Eits…., tapi bukan jadi pelecehan seksual mereka lhoh….

Ok, kembali ke alur cerita perjalanan.

Singkat cerita, setelah menguasai keadaan akupun mendapat jasa ojek yang sengaja kupanggil untuk mengantarku. Perjalananku pun kulanjutkan lewat jalur darat menggunakan bus. Sesuai petunjuk kawan via telepon, aku diarahkan untuk memesan bus tavel ”Tanjung Niaga” yang melayani rute perjalanan menuju Nanga Pinoh, kota akhir dari perjalanku.

Layanan bus Pontianak-Nanga Pinoh tersebut mungkin lebih tepat di sebut travel ketimbang angkutan umum reguler. Karena hanya berangkat pada jam – jam tertentu yang disediakan sebuah perusahaan jasa angkutan. Berangkat dan berhentinya bus juga tidak di terminal bus, tapi di pangkalan masing – masing agen.

Tatkala aku mencoba memesan tiket bus berlogo Tanjung Niaga untuk perjalanan darat, ternyata tiket sudah habis untuk perjalanan sore itu. Beruntung “abang ojek” berbaik hati mengantar ke agen bus Damri. Dan untungnya lagi masih ada tepat satu tiket bus Damri yang akan berangkat satu jam lagi. Upah 10.000 yang disepakati kutambah jadi 15.000.

Dia menjabat tanganku erat dengan mimik penuh rasa terimakasih. Padahal butuh 10 menit untuk bisa tawar menawar hingga mendapat harga 10.000. Bukannya sok baik, tapi mendapat jasa yang mampu membuat kita benar – benar merasa dilayani sungguh suatu hal yang patut kita hargai, kalau memang kita punya uang lebih.

Selain melayani tujuan kota – kota domestik di kalbar, terlihat ada bus Damri berlabel ”Pontianak – Kuching PP” di kaca depannnya. Belakangan memang kutahu, bahwa Pontianak – Kuching adalah salahsatu jalur trans RI – Malaysia melalui ”Entikong Boarding”. Wih, apalagi tuh.! Semacam pos perbatasan untuk cek kelengkapan visa begitulah….

Sopir dan awak bus Damri menggunakan seragam dinas berlogo Departemen Perhubungan, maklum Damri kan salahsatu sarana transportasi yang dikelola pemerintah daerah dalam naungan DepHub. Ah, ko’ jadi ngomongin DepHub si..

Perjalanan dari Pontianak menuju Nanga Pinoh jika lancar dapat ditempuh selama satu malam. Berangkat sekitar jam 6.30 sore, maka sekitar jam 5 pagi kemungkinan sudah sampai di Nanga Pinoh.

Tepat pukul 18.45, roda bus Pontianak – Nanga Pinohpun berputar memulai perjalanan. Wajah kalimantan dalam perjalanan membelah hutannya tentu menawarkan sensasi perjalanan yang mengasyikkan. Apalagi bagiku yang pertamakali merantau. Redupnya gemerlap kota Pontianak di balik kaca bus yang berjalan pelan namun pasti, menandakan bis sudah mulai membelah hutan kalimantan( benernya ”bis” apa ”bus” sih…bingung aku, pokoknya itulah!).

Sejenak setelah bis mulai berjalan, tampak dikaca bis yang kutumpangi membelah lebarnya sungai melalui jembatan yang agak panjang. Ada narasi yang kudapat dari perbincangan dengan penumpang disampingku tentang gambar di seberang kaca tersebut. Bahwa itu adalah jembatan yang membelah sungai Kapuas I. Sungai terpanjang dan terbesar di kalbar. Jembatan yang dibangun tahun 1980-an. Belakangan dibangun lagi jembatan Kapuasa II untuk memperlancar arus kendaraan yang kian padat.

Hiruk pikuk penumpang yang masih bertelepon membuat suasana penumpang terlihat masih riuh. Ada yang sibuk mengucapkan selamat tinggal dengan kerabat, hingga berbicara panik di HP karena barangnya tertinggal.

Jembatan Kapuas malam hari

Tapi lama kelamaan susana sepi. Kadang terang kadang gelap oleh kilatan cahaya kampung – kampung yang dilewati, dan sesekali bis terasa bergoncang tanda jalan yang berlobang.

Aku tidak tahu mengapa ada sensainya luar biasa tatkala melakukan perjalanan di petualangan pertamaku menembus hutan belantara Kalimantan itu, sembari membayangkan seperti apa kota Nanga Pinoh tujuanku. Bagaimana keramahan orang – orangnya, dan bagaimana rasanya menghirup udara pagi di kota tujuanku di bumi kalimantan.

Inilah perjalanan yang sebenarnya, pikirku. Paling sering aku naek kerata api PP dari Malang ke Blitar semasa kuliah. Itupun jarang beli karcis. Hehe…. Tapi ini perjalanan dengan bis AC menembus daratan kalimantan semalaman. Tanpa tahu seperti apa kota tujuanku, seperti apa tempat kerja baruku dan seperti apa orang yang akan menyambut kedatanganku. Sendiri lagi! He he sok dramatis kali nih. Tapi begitulah rasa yang sejujurnya.

 

Sejuknya AC mengundang kantuk yang sebenarnya ku usir kuat – kuat karena ku tak ingin melewati sensai perjalanan membelah hutan – hutan kalimantan. Dan lama – lama kok makin gelap???### Wah.. tertidur juga aku.!

Tapi upps…bis kok tiba – tiba gak bergerak…?? samar – samar terdengar hiruk pikuk penumpang turun. Sudah sampai? Eits… ternyata belum.

Tepat jam 12 malam, ternyata Bis berhenti….Singgah di suatu tempat yang terlihat ramai. Eh, ternyata rumah makan padang. Tempat persingggahan bis – bis malam menuju tujuan kota – kota pedalaman kalimantan barat. Rumah makan yang terlihat kurang permanen, karena terbuat dari kayu – kayu dengan desain khas rumah padang. Lokasinyapun terlihat jauh dari pemukiman. Lumayanlah…, jadi mengingatkan aku dengan rasa lapar nih…

Belakangan aku tahu, rumah makan ini lazim disebut rumah makan “Sosok” karena terletak di kecamatan Sosok kabupaten Sanggau. Berdekatan dengan “simpang sosok” sebuah persimpangan ke arah perbatasan Malaysia jika ambil jalur arah kiri. Tempat persinggahan yang sudah akrab ditelinga orang yang melakukan perjalanan dari Pontinak ke kota2 di pedalaman kalbar.

Setelah buang air sejenak akupun antri pesan makanan. Perjalanan jauh memang membuat perut terasa lapar. Terlihat berbagai lauk khas masakan padang berjajar di dalam etalase kaca khas warung padang. Ramai sekali, gimana bayarnya ntar nih…? kok gak ada yang mengambilkan?. Ow.. ambil sendiri alias prasmanan rupanya. Tapi mesti antri dengan penumpang – penumpang yang terlihat berwajah kusut karena perjalanan.

Ditengah asiknya makan, eh ada orang yang naruh secarik kertas dengan tergesa – gesa di samping piring makanku. Kulihat samping kanan kiriku ternyata semua orang yang makan dapat kertas serupa. Kuintip tulisannya yang dibalik. Alamak!…… tertulis: 18.000. Ini harga makananku rupanya.

Padahal cuman lauk secuil ayam dengan kuah rendang dan sejumput sambal. Belum lagi kalo pesan teh nih. Harga segitu udah 5 kali makan lauk ayam di samping kosku di Malang nih”, pikirku. Maklum, naluri hitung – hitungan mahasiswa kos – kosan, gak bisa makan mahalan dikit. Bawaannya makan murah, tapi lauknya enak. (hahaha)

bersambung ke bag 3

 

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

3 thoughts on “Berpetualang dan berkarya di Kalimantan, kenapa tidak?? ( bag 2)

  1. Kurang lebih pengalaman pertamaku dari Pangkalan Bun ke Palangkaraya tahun 1997. Selamat berjuang di Kalimantan. Bukan begitu?

  2. trims pak…
    mgkn p willy punya pengalaman yg lbh seru..
    tp ini bagian sy beraktualisai dlm tulisan..
    dr Jawa k kalmntan lhopak jd adptasi peradabannya tentu lebih.
    btw trims atas komennya.. sukses jg tuk p willy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s