Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Pembelajaran potensi siswa: mengais sisa2 idealisme pembelajaran matematika

5 Komentar

Selidik punya selidik, trigonometri berasal dari kata Yunani. Trigonon yang artinya tiga sudut. Dan metro artinya mengukur. Jadi trigonometri adalah ilmu yang asal muasalnya adalah mengukur sudut segitiga dengan berbagai istilah fungsi yang terkait. Yaitu Cosinus, Sinus, dan Tangen.

Istilah Sinus, Cosinus dan Tangen meski bagian dari trigonometri, namun ketiganya jauh lebih tua ketimbang istilah Trigonometri itu sendiri dalam sejarah penemuannya. Istilah Trigonometri pertamakali dihunakan tahun 1595. Sedang istilah Sinus, Cosinus, dan Tangen sudah muncul pada tahun 600-an. Tapi, tulisan ini bukan untuk membahas sejarah istilah trigonometri. Ada sisi lain yang menjadi inspirasi saya menulis kali ini.

Pasti yang sempat lulus SMA ingat istilah Sin, Cos dan Tan tersebut. Dengan berbagai variasi pengembangan topiknya yang memang sangat heararkis ( saling berkaitan ). Hirarkisme inilah yang mungkin membuat banyak siswa keriting rambutnya karena merasa kesulitan. Kecenderungan memvonis sulit tersebut karena penyajian materi yang memang cenderung sepotong ( tidak menyeluruh). Ada banyak faktor kenapa harus sepotong. Dari mulai tuntutan sylabus dengan proporsi waktu yang pas-pasan hingga SDM siswa yang tidak memungkinkan diajak berpikir terlalu mendalam.

Belum lagi jika strategi penyajian gurunya terlalu idealis. Inginnya kontruktivis-menuntut siswa berpikir kritis, eh ternyata malah memunculkan stigma rumit di benak siswa. Sebab giliran pada tahap latihan soal, energi otaknya sudah habis oleh teori pengantar. Ini banyak dialami guru2 muda, termasuk saya dulu. Nah, sekarang saya dituntut bergaya dialiktik-pragmatis. Dalam bahasa gaul ” cari mudahnya saja” atau yang penting siswa tahu fakta dasarnya dalam teori pengantar. Toh, masih ada topik lain untuk menyalurkan idealisme pembelajaran

Ada yang sedikit menjadi bisik2 dalam benak saya tatkala mengantar siswa angkatan sekarang dalam belajar topik trigonometri mingu2 ini. Topik yang berada di sebaran materi kelas X tersebut menuntut saya harus benar – benar menekan kuat2 tingkat kesulitannya. Mengingat SDM anak2 yang jauh menurun kualitasnya dibanding tahun yang lalu. Untuk membuat terampil mencari nilai Sin (300) saja butuh waktu lebih dari 3 pertemuan.

Ket gambar: Hasil ulangan Kompetensi Dasar menentukan nilai perbandingan trigonometri sudut segitiga siku2 kls X .

Bandingkan dengan tipe soal ulangan KD serupa yang bisa diujikan siswa angkatan sebelumnya ; ” ulangan aturan sin dan cos

Jika saya bersikeras memberikan soal aturan sinus, kosinus dengan tahapan berpikir lebih rumit satu tahap saja, mungkin anak – anak justru tidak akan mendapat apa – apa dari materi ini. Tapi dengan sajian materi yang sangat seserhana mereka justru terlihat lebih antusias dengan apa yang mereka dapatkan. Nampaknya naluri saya sebagai seorang guru cukup terhibur dengan antusiasme mereka dalam menguasai materi. Meski sebenarnya tuntutan penguasaan materi trogonometri tidak sesederhana itu. Tapi melihat keceriaan mereka mendapat nilai diatas KKM sungguh membuat saya menjadi mengerti akan ”pembelajaran potensi siswa”. Tentu itu adalah istilah yang saya buat – buat sendiri.

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

5 thoughts on “Pembelajaran potensi siswa: mengais sisa2 idealisme pembelajaran matematika

  1. Salam Mas Saiful,
    Trigonometri buat saya dulunya memang mata pelajaran yang cukup sulit, tapi setelah memahami esensinya, trigonometri tidaklah terlalu sulit.
    Yang sering saya dengan dari Guru-guru matematika saat ini, minat anak-anak terhadap matematika memang cukup rendah.
    Saya sependapat dengan Mas Saiful, pengajaran tersebut harus membuat anak-anak ceria bukannya membuat mereka tertekan.

    • Salam Juga buat P Aldy…
      Iya pak. Mengemas matematika menjadi menyenangkan itu memang tantangan guru yang mau berkembang pak…,dan hal itu butuh motivasi dan keinginan selalu menngembangkan diri…

      kalo anak belajar lalu dapat nilai 9 karena takut, itu hampir semua guru bisa…
      Selain banyk faktor tentunya untuk menumbuhkembangkan motivasi annak….
      Trimakasih atas kunjungan nya pak…..

  2. pak, apa arti sinus, cosinus, dan tangen yang muncul pada tahun 600-an tersebut. saya mohon uraiannya…terima kasih.

    • secara etimologi, arti kata sinus jauh dari isi konsepnya.

      “Sinus” adalah kata latin yang artinya justru “buah dada”.
      Konsep perbandingan sisi depan thdp hipotenusa dlm segi3, dlm bahasa sansekerta populer disebut “jiva” kemudian dlm peradaban islam berkembang jadi “Jiba” . Karena perkembangan ucapan dlm arab menjadi “Jaib” Yang secara harfiah artinya ” buah dada”. Nah, buah dada dalam istilah latinnya adalah “sinus” dan berkembang jadi “sine” di enggris.
      Jd jgn heran kalau dalam kamus bhs latin sinus = “buah dada”

      Baru berkembang cosinus; “complementary sinus”

      sedang tangen berkembang beberapa dekade kemudian, berasal dr kata latin “tangere” artinya menyentuh.
      yang berangkat dari konsep segmen garis AB yang menyentuh lingkaran di A. Tangen adlh perb AB dan AO dlm sudut BOA. demikian kilasan yang sy nukil di buku yg sy punya trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s