Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Matematika yang menyelamatkan

3 Komentar

Seorang gadis yang koma beberapa hari akhirnya terselamatkan oleh matematika.

Seorang gadis di Inggris, Vicki Alex, 15 tahun didiagnosa dokter menunjukkan penyakit myeloid leukaemia acute. Dan sejak ia mulai kesulitan bernafas dan pusing akhirnya ia pun mengalami koma. Dua minggu kemudian, tubuhnya menjadi sangat dingin karena ia mengalami cold-like symptoms.

Image: edukasiana.com

Sebulan kemudian, keadaannya bertambah parah bahkan dokter sudah memvonis kematiannya. Namun orang tua VIcki tidak mau menyerah. Mereka terus mencoba memberinya stimulus dengan mengajaknya bicara tentang musik favorit hingga teman-temannya, Vicki masih juga tidak bereaksi. Lalu seorang ahli  IT asal Finedon, Northamptonshire, Alex, mengusulkan sebuah ide yang mungkin bisa membangunkan Vicki. Ia menyarankan agar Nick memberi pertanyaan aritmatika sederhana pada Vicki. Gadis ini memang menyukai matematika dan menjadikannya salah satu pelajaran favorit di sekolahnya.

Nick pun kemudian memulai pertanyaan aritmatika yang sangat sederhana, yaitu satu ditambah satu. Dan seperti keajaiban, Vicki pun merespons pertanyaan itu. “Dia mencoba menyebutkan jawabannya, tapi saya tidak mengerti. Ketika saya tanyakan apakah jawabannya adalah dua, ia pun mengangguk,” tutur orangtuanya.

Dokter mengatakan bahwa hal itu hanya sebuah kebetulan saja. Namun ketika ayahnya memberi pertanyaan tentang pelajaran lain, Vicki pun merespons dengan menggelengkan kepala. Nick akhirnya terus memberinya pertanyaan aritmatika, dan responsnya semakin baik. Hari berikutnya, Vicki sudah bisa bernafas tanpa alat bantu.Meski masih harus menjalani kemoterapi, kondisi gadis ini semakin membaik.

Wah, kecintaan akan matematika ternyata dapat menyelamatkan nyawa.

Kisah tersebut saya sadur dari edukasiana.com yang di cuplik dari situs foxnews.

Bagi saya mungkin matematika masih sebatas tuntutan, karena saya memang  guru matematika. Meski sempat menganggap matematika hoby pada awalnya, namun belakangan saya tahu diri bahwa matematika belumlah hobi bagi saya. Karena msih banyak orang yang tanpa label hoby tapi lebih total dalam mengapresiasi matematika.

Murid saya menghargai matematika saja bagi saya sudah cukup bahagia. Daripada mereka terkekang dengan matematika, tapi pada akhirnya selepas sekolah mereka hanya menganggap matematika sebagai mimpi buruk yang  terlewati.

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

3 thoughts on “Matematika yang menyelamatkan

  1. hebat…
    sebagian besar orang menganggap matematika sebagai momok, padahal org hidup selalu lekat dg matematika,yang berfikiran sperti itu karena mereka malas..semangat sobat…

  2. Menurut saya sih lebih enak belajar matematika dari pada ilmu sosial, walau saat ini saya bergelut dengan dunia sosial.
    Enaknya matematika itu pasti, bukan kira-kira seperti ilmu sosial😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s