Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Di kaki Kapitalisme: sebuah narasi opini

16 Komentar

Image: adapted from socialsignal.com

Ada kilasan flashback dan simpul narasi dibenak saya, pada pertemuan pertama kami  para guru dengan pucuk pimpinan perusahaan mitra yayasan. Berkesempatan mengamati dari dekat, sekilas sosok pimpinan perusahaan besar. Bahkan perusahaan mitra ini konon pernah terbesar di Asia Tenggara.

Kebetulan duduk pada deretan terdepan, saya bak  menyimak penampilan monolog di kursi VIP.  Mengamati gaya bicara, ekspresi dan gesture seorang petinggi kapitalis-sebagaimana yang Ia klaim tentang dirinya. Bahwa Ia mempercayai kapitalisme namun tetap menjiwai sosialisme, yakni pemerataan.

Berdiri dan berorasi singkat tanpa podium, didepan kami para guru yayasan mitra perusahaan. Lebih tepatnya memang bukan orasi, tapi selaku pemangku kepentingan utama, memberi pengarahan dan pandangan kepada para guru yang mengemban tanggungjawab pendidikan. Gesturenya mengatakan bahwa keutamaan idealisme pendidik memang harus dijaga. Mengakui ada kekuatan pondasi moral yang mampu dibangunnya. Stabilitas energinya vital.

Saya jadi teringat gaya pimpinan perusahaan dimana saya pernah bekerja, sebelum mengabdikan diri di perusahaan mitra  yayasan ini. Bukan karena pemimpin dari ras yang sama,  dialek dan kefasihan bahasa yang sama, atau juga karena cara pandang manajerial yang terlihat mirip. Labih dari itu.

Selain mematahkan segala imej penampilan seorang pimpinan perusahaan besar-bahkan konon sempat multinasional. Yang sering terbayang  memakai jas dan dasi. Atau bercelana kain berkemeja krah nan rapi. Juga menguatkan hipotesis saya, bahwa seorang pemimpin besar kapitalis-sosialis selalu bicara tegas dan mendobrak segala tradisi basa-basi, sopan santun dan citra diri. Terlebih pada bawahan maupun mitra. Karena tidak efisien, dan belum tentu efektif.

Semua statemen mengarah pada satu penegasan bahwa kita dalam satu kepentingan. Bahwa jika pabrik lancar berasap, maka akan sejahtera bersama – sama sesuai kapasitas perannya. Posisi peran dan model leadershipnya, membuat tidak terlalu banyak bicara untuk meyakinkan kekuatan kapasitasnya.

Bak sepakat dengan hipotesis diatas, kami yang hadir tidak terasa terusik dengan gaya bicara pemimpin ini. Semua yang menyimak sepakat, it’s OK. Saya dengarkan, saya pahami, saya mengerti. Begitulah kira – kira. Seperti  gerakan komando dirijen dengan nada patriotik, membuat semua mengikuti,dan ikut bernyanyi. Bagi yang antikapitalis sekalipun.

Sebuah penampilan, gaya bicara dan pemaparan pemimpin kapitalis-sosialis yang sulit ditiru seorang pemimpin kultural dan struktural. Dari Lurah, bupati hingga menteri sekalipun. Yang terbebani dengan citra, intrik  dan gaya basa – basi.

Note: Posting ini hanya sebuah narasi opini dari cara pandang saya terhadap pengalaman pribadi.

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

16 thoughts on “Di kaki Kapitalisme: sebuah narasi opini

  1. “Begitulah kira-kira….”
    just comment….;)

  2. woi, ternyata ada juga sosok pimpinan yang bisa menggabungkan antara gaya kapitalis dan sosialis, hehe …

  3. itu adalah klaim pak, faktanya ga tahu.. begitulah kira2… hehe

  4. sebenarnya saya bukan penyuka tulisan yang panjang tapi tulisan ini saya baca sampai habis
    menarik mas🙂

  5. Kapitalisme dan sosialisme memang dua buah kubu yang berseberangan. Masing-masing punya kelemahan dan kelebihan masing2. Yang jelas, sulit bagi kita untuk menemui orang yang benar2 100% kapitalis ataupun 100% sosialis di dunia ini. Setiap orang/individu, pasti mempunyai dua buah kombinasi ini, hanya saja pada masing-masing individu kadarnya berbeda. Bahkan di AS pun yang banyak orang2 mengkatannya sebagai rajanya kapitalisme, namun tetap saja banyak kita jumpai sifat-sifat sosialisme dalam rakyat bahkan dalam pemerintahan di AS.

    Menurut saya, yang terbaik adalah mengetahui secara persis kapan dan di mana seseorang harus bersifat kapitalis dan kapan dan di mana orang harus bersifat sosialis, dengan begitu, insya Allah, ia akan mendapatkan hasil yang optimal dari kedua sifat yang berseberangan tersebut…

    • betul pak……., kapitalisme dan dan sosialisme adalah sebuah dikotomi dari sisi sisi paradigma kehidupan sosial ekonomi. Diluar ideologi2 yg laen.

      bagaimanapun itu adalah realita kehidupan.

      Semenjak runtuhnya Unisoviet dengan sosialis-komunisnnya, kapitalis dan sosialis menjadi kian saling berkombinasi. Apapunlah itu, yang penting tetap berasaskan keadilan sosial.

  6. Wah dalem banget ni tulisan.
    Siiip!

    • mungkin sedikit bikin kening berkerut pak ya.. agak sengaja sy mencoba gaya nulis demikian.
      sebenernya ingin sy tulis lebih ringan2 aja. Maklum masih meraba2 jatidiri gaya menulis… hehe

  7. Kapitalis dan sosialis “kawin”? ach, itu hanya simbol. Mas Syaiful juga tahu bagaimana ditempat kita sebelumnya.

  8. waduh.. p aldy datang masih posting lama.. ga enak nih.

    emang hanya simbol dan istilah pak..

    mungkin ada yg antipati dgn gaya seperti ini, padahal dgn gaya seperti itu mereka bsa hidup…tp udahlah yg pntg berkeadilan sosial …..hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s