Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Sebuah catatan mudik lebaran…

9 Komentar

image: kapanlagi.com

Mudik. Suatu istilah yang lazim untuk seseorang yang melakukan perjalanan menuju kampung halaman di momen lebaran. Perjalanan yang jauh. Tidak hanya lintas kota, propinsi atau lintas geografis. Tapi juga lintas peluang  ekonomi. Lintas harapan. Lintas budaya. Dan mungkin juga lintas etos kerja.

Mudik memang  multimalkna. Tergantung motivasi dan niat. Dari mulai sekedar kerinduan kampung halaman, menyambung tali silaturrahmi, hingga menjadi wahana supremasi keberhasilan seseorang dalam bekerja.

Mudik bak sebuah momen wisata masal. Ada rona – rona rasa didalam perjalanan mudik. Lebih dari sekedar perjalanan liburan. Sebab nyaman bukanlah tujuan, tetapi yang terpenting sampai ke tujuan. Biarpun berdesak – desakan dan berpeluh. Sebab kenyamanan transportasi adalah bagian dari supremasi  penghasilan.

Bagi saya, perjalaan mudik seringkali memberikan pengalaman cara pandang. Berikut catatan saya…….

Suatu ketika seorang bapak berkacamata hitam berjaket jins antri keluar pesawat persis didepan saya. Semula saya tidak memperhatikannya. Tapi dialognya dengan pramugari mengusik kesabaran saya yang ingin cepat keluar dari badan pesawat. Sebab saya tertahan dibelakangnya.

Rupanya Ia bingung bagaimana mengambil barang bawaan yang Ia titipkan dibagasi pesawat.  Senyum jayus pramugari menandakan Ia kesal dengan penumpang yang belum tahu prosedur pengambilan bagasi ini. Mungkin bapak ini mengira harus antri dan rebutan mengambil bagasi di perut pesawat. Hampir dapat dipastikan bapak ini baru pertama naik peasawat terbang. Hehe..

Bandara Juanda Surabaya

Dalam kesempatan yang lain, seorang anak muda berkulit kuning bermata sipit berjalan tergesa – gesa menarik troly bagnya masuk bandara. Tak sengaja Ia menabrak saya hingga hampir menjatuhkan tas ransel saya. Sebenarya saya malas berkenalan dengan orang beginian di perjalanan. Tapi untuk menghargai permintaan maafnya, saya tanggapi perbincangan dengannya. Ia masih muda. Duapuluh tahunan. Bercelana selutut, berkaos oblong dan bersandal jepit. Memegang HP sebesar “tempat pensil”

Penampilannya meyakinkan saya bahwa naik pesawat baginya tak lebih seperti naik angkot di kota. Murah  saja. Tidak seperti saya, harus browsing siang dan malam di internet untuk berburu tiket murah. Identitas kemakmurannya justru tercermin dari kesederhanaan penampilannya.

Saya berjalan berdampingan sambil berbincang dengannya menuju ruang tunggu pesawat. Saya berlagak cuek untuk mengimbangi gayanya yang terlihat efisien dalam bicara. Merasa kesal atas pengumuman keterlambatan pesawat selama 20 menit, itulah topik kami. Namun, ada reflek yang berbeda saat didepan executive longue ( ruang tunggu eksekutif). Ia bergegas masuk ruang tersebut tanpa basa – basi mengajak saya.  Saya tidak mengurangi kecepatan langkah menuju ruang tunggu biasa. Meski saya heran, siapa anak ini kok masuk ruang tunggu para “borju” itu.
Mungkin Ia memang memegang tiket kelas eksekutif, gumam saya.

Begitu naik di pesawat, eh anak tadi menempati nomer seat tepat disamping saya. Kelas ekonomi juga. Lhoh…, ko’ tadi Ia nongkkrong di ruang tunggu yang beda??. Tentu tidak mungkin saya bertanya padanya. Wah, kalau saya masuk ruang tunggu para borju itu, apakah pelayananya juga seramah ketika melayani anak ini ya? Gumam saya lagi.

Yah, cerita diatas hanyalah sekelumit cerita. Bahwa ekspresi dan penampilan menentukan pelayanan. Bapak berjaket jins yang normal bertanya bagaimana mengambil bagasi pesawat mendapat pelayanan yang jayus dan terlihat kesal. Sementara anak berkaos oblong dengan status tiket  yang sama  mendapat pelayanan terhormat di ruang tunggu eksekutif. Hmmm….Mungkin suatu saat saya mesti berekspresi seperti anak yang beruntung ini. Hehehe…

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

9 thoughts on “Sebuah catatan mudik lebaran…

  1. selamat menempuh perjalanan mudik…
    semoga selamat sampai kampung halaman dengan selamat,
    semoga bisa berlebaran bersama keluarga,
    bermaaf-maafan di hari raya nan fitri….

  2. Assalaamu’alaikum Saiful.
    Untuk kesempatan yang diberi Allah ini, dengan segala rendah diri saya ingin memohon kemaafan :

    Andai lisan kadang2 tidak terjaga bicara , Andai janji kadang2 tidak tertunai segera. Andai hati kadang2 berprasangka duka. Andai tingkah kadang2 menyakitkan rasa. Hidup ini akan menjadi indah, jika masih ada rasa maaf di hati dan rasa ihsan di jiwa. Buatmu sahabat, di hari mulia kita bermaafan. MAAF ZAHIR DAN BATHIN.

    Taqabbalallohu minna wa minkkum. Kullu am wa antum bikhairiin.
    SELAMAT HARI RAYA

    Salam Ramadhan Yang Barakah dan Salam Aidil Fitri Yang Bahagia.
    Salam mesra dari Sarawak, Malaysia.

    ____________

    ## Pengkisahan mudik lebaran di atas sangat bagus kerana banyak pengajaran yang boleh dipelajari. 5 jempol dari saya. Selamat berkarya dan menulis terus menulis. Salut.😀

    • walaikum slam bunda…
      trimakasih atas perhatian hangatnya dari Malaysia. Semoga bunda Siti senantiasa mendapat berkah Ramadlon dan Hari Raya.
      Mohon Maaf Lahir Dan batin..

      Tentu ada nuansa dan suasana yang unik di Malaysia terkait perayaan Idul Fitri, seperti halnya di Indonesia. Mudik sudah bagian dari budaya. Termasuk juga saya.
      Harus pandai – pandai mencari nilai – nilai kehidupan dalam setiap kesempatan

      Salam Hormat Dari Saya Blitar East Java..

      Wasalam..

  3. Bearti semua itu tergantung keberanian dan muka tembok😆 kalau aku mending duduk mojok sambil selonjor merasakan kepenatan hidup sambil komat-kamit baca doa😆
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  4. Sama pak… bagi saya yang bagian dari kaum proletar.. lebih nyaman di ruang biasa.. tidak ada sekat keistimewaan apapun. Bebas, dan sederhana.
    salam dari Blitar Jatim

  5. Wah…perlu saya diterapkan juga kayaknya Mas. Siapa tau berhasil.hehe..
    Gimana, udah balik dari mudik? Hehe..
    salam hangat.🙂

  6. tapi meski nyiapin credit card pak kalo pingin dapat layanan di sana.., nampaknya begitu.. masih ada sisa mudik selama seminggu pak..
    salam hangat juga…

  7. Wah senang bisa pulang kampung ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s