Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Tiga sahabat, tiga masa.

10 Komentar

Inilah mungkin sedikit makna mudik itu. Menyimpulkan narasi, mengais nilai, dan merajut inspirasi. Ada nilai rendah hati, silaturrahmi, mawas diri, motivasi , serta yang paling penting adalah rasa syukur dan menghayati nilai perjalanan kehidupan.

Ada ikatan sejarah yang tak boleh dilupakan dikampung halaman. Meminjam istilah Andi Malarangeng kampung halaman adalah “titik nol koma nol”.

Perbincangan empat mata dengan beberapa keluarga dan kawan lama dalam kesempatan mudik, seakan menjadi layar yang menyuguhkan berbagai rona – rona pembelajaran hidup. Menjadi cermin bagi cara pandang saya dalam menjalani roda kehidupan. Setelah sekian waktu pergi jauh meninggalkan kampung halaman.

Inilah kesempatan silaturrahmi itu…

Seorang kawan bermain dimasa kecil, yang dulu sering menjadi pangeran dimata gadis – gadis madrasah di kampung kami, bercerita dengan lesu karena istri yang Ia nikahi 6 bulan lalu belum menjadi jodoh yang tepat. Lebaran pertamanya setelah menikah tidak bersama istri karena nampaknya perceraian sudah didepan mata.

Indahnya rumahtangga masih urung Ia raih, sebab ada masalah prinsip yang tak Ia sangka. Padahal baru kemarin dengan penuh ceria Ia memotivasi saya karena Ia sudah mendapatkan jodohnya. Guratan takdir baginya benar – benar tak terduga.

Sedang seorang sahabat SMA, yang dulu sering menjadi “pujangga tak laku” disekolah, pejuang cinta yang bersenjatakan puisi dan kue – kue wafer Tango-nya, kini sudah memajang photo anaknya besar – besar di ruang keluarga. Keuletannya sebagai pujangga cinta dimasa lalu rupanya berhasil menggaet gadis yang dicintainya.

 

Pose di depan pusat perdaban keluarga, 12 Sept 2010

 

Mobil Xenia baru yang Ia punya sempat membuat saya kaget, karena teringat masa Ia di SMA yang sesekali memakai motor Yamaha tahun 1976 milik bapaknya. Motor yang Ia pakai hanya kalau bapaknya tidak pergi ke sekolah untuk mengajar.

Padahal bapak saya sudah punya motor Suzuki Tornado GX tahun 1995 yang jauh lebih eksotis dan baru dimasa itu. Keberhasilan hidupnya menebus rasa penyesalan, tatkala sebelas tahun yang lalu Ia pernah gagal menjadi calon guru matematika bersama saya. Hmm..begitu cepat rupanya lompatan nasib baginya.

Dan satu lagi, ketika bertemu kawan Madrasah Tsanawiyah ( SMP), yang dulu setiap pagi menghampiri saya untuk bersepeda ke sekolah, kini putrinya sudah masuk playgroup. Guratan otot – otot kekarnya mengingatkkan saya dengan perjuangannya mengayuh sepeda setiap pagi, sejauh 10 km menuju sekolah. Dua kali jarak yang saya tempuh menuju sekolah yang sama.

Sekaligus mengingatkan saya dengan kegagahannya sebagai atlit atletik siswa Madrasah Tsanawiyah. Yang menghasilkan segudang prestasi yang disegani dari tingkat kabupaten, karisidenan, hingga tingkat propinsi. Menjadi pahlawan dimata kawan – kawan, guru olahraga dan sekolah.

Perbincangan kami berdua yang lama sungguh mengisyaratkan bahwa kami punya ikatan sejarah. Lima belas tahun yang lalu, kami pernah ada pada satu titik yang sama. Mengayuh sepeda beriringan sambil berbincang tentang onderdil sepeda, tentang gadis berjilbab yang baru dilihat, tentang urusan contek-menyontek, serta tentang jam tangan merk SEIKO kebanggaannya- buah tangan kakaknya yang menjadi TKI di Arab Saudi. Berolok dan berbagi dengan kekurangan dan kelebihan masing – masing. Ia adalah patner sejati saya mengayuh sepeda menuju sekolah.

Satu jam kami berbincang dengan penuh emosi masa lalu. Hingga akhirnya, matanya yang merah dan sesekali menguap tanda kantuk, mengurungkan niat saya berbincang lebih lama. Sebab bersama istrinya Ia harus menyiapkan irisan sosis goreng yang akan Ia jajakan esok petang di pasar. Mengais laba dari kerumunan orang – orang yang membeli sosis goreng limaratus perak pertusuk.

 

Tradisi "kendurian"/"kondangan"/"genduren"/dll.., setelah sholat Id di Masjid.

 

Salah besar jika saya memandang susah kehidupannya. Ia terlihat begitu sahaja. Tidak ada guratan keluhan di dahinya. Menjadi cermin bagi saya, bahwa rasa syukur atas karunia jauh lebih berharga. Ketimbang obsesi yang tak akan ada habisnya.

Demikian catatan saya tatkala bertemu tiga sahabat di masa yang berbeda – beda. Dari mulai kawan bermain yang pernah jadi pangeran kampung, “pujangga cinta di SMA”, hingga patner sejati saya bersepeda. Semua punya guratan perjalanan yang berbeda sesuai kapasitas usaha dan ketentuan-Nya. Termasuk juga saya.

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

10 thoughts on “Tiga sahabat, tiga masa.

  1. wah seneng sekali bisa ketemu kawan lamo

  2. Tidak disangka perjalanan pulkam itu menjadi kisah inspiratif bg yg mbaca,terutama ak…tdk merasa menj.org yg ga2l dan bersyukur atas sgala yg sharsnya disyukuri. Pintar untk mengambl hikmah dlm diri maupun sekitar.tdk berbangga karna esok adalh sesuatu yg tdk pasti.semangat mas ipul.te2p tulis hal2 baru yg inspiratif…sapa tau ak bs berguru…he2

    • sbnarnya whYupun pasti punya penglaman sendiri yg pasti jg lbh inspiratif..whyu sendiri yg tahu itu. Insyllh semangat…, sesuai kapasitas kekuatan yang diberikan pada saya. Amin.. trimakasih kenan baca…
      terlalu berat kalo mesti berguru.., pengalamanlah yg bisa menjadi guru yang baik..

  3. Assalaamu’alaikum Mas Saiful.
    Subhanallah…. asyik sekali membaca baris-baris kata yang dirangkum menjadi sejumlah ayat dan membentuk deretan cerita yang memberi inspirasi juga kesan mendalam kepada saya yang membaca cerita mudik mas Saiful.

    Begitulah kehidupan kita yang dilalui sebagai satu sejarah yang panjang untuk dikenangi dan dijadikan teladan masa depan. Tidak semua orang dapat menyatu diri kembali dengan sahabat2 yang pernah berkongsi cerita hidup dalam kesempatan waktu yang tak terduga tanpa izin dari Yang Maha esa.

    Sungguh mas saiful beruntung, mudik kali ini memberi inspirasi yang tinggi untuk dapat menilai diri dan kehidupan yang dipinjamkan sebenar oleh Allah ini. Oleh itu, hargailah apa yang telah Allah kurniakan.

    Salam mesra selalu dan terima kasih kerana betah singgah ke blog saya sedangkan saya masih sibuk dan jarang BW kini kecuali ada sedikit kesempatan sahaja.😀

  4. mohon maaf lahir dan batin

    senangnya bisa bertemu, berkumpul dan berbagi dengan kawan2 lama

    salam

  5. Bagi-bagi dunk mas, kenduren di makan sendiri. Dinuak tuh, jarang ada kenduren😦

  6. Tp kalo di nuak kan ada tempoyak pak aldy… hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s