Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Lagi, mengais sebuah inspirasi mengajar.

15 Komentar

Serasa di tepi lautan jika membuka kembali buku Max A. Sobel dan Ivan M. Maletsky ini. Lautan dengan hamparan wawasan dan inspirasi yang luas bagi seorang guru.

Pembahasan yang dilakukan dibuku ini independen, terbuka dan konkrit. Jauh dari teori pedagogik yang rumit. Tawaran idenya tidak jauh diawang – awang alias konkrit. Si pengarang, Max A. Sobel dan Ivan M. Maletsky memang akademisi dan praktisi pendidikan matematika tulen di negara asalnya, Amerika.

Saya tidak bermaksud promosi buku, anggap saja ini kutipan resensi yang melahirkan sedikit inspirasi pribadi. Kalaupun penerbit diuntungkan secara komersial dengan posting ini, anggap aja berkah dari penerbitan buku pendidikan. Hm.

Kembali ke isi buku. Ada nuansa “refresh” dalam benak saya. Betapa tidak, delik rutinitas mengajar sudah sedemikian padat. Saya sadar saya bukan guru Superman yang bisa dengan mudah merasa berhasil mengemban beban mengajar 35 jam perminggu dengan lintas jenjang unit SMP dan SMA.

Skenario pembelajaran seringkali saya susun spontanitas dalam perjalanan menuju kelas. Rutinitas tidak mungkin saya kurangi, karena itu adalah tuntutan keadaan. Sejenak merefresh idealisme mengajar dikelas adalah “ilham” yang sulit didapat seorang guru. Dan didalam buku ini, saya coba mencari “ilham” itu.

Setidaknya saya mencoba memperhatikan kembali “asupan giz i belajar” murid – murid saya. Sebab mengajar tanpa idealisme dan penjiwaan, bagaikan memberi anak makan tanpa memperhatikan gizi. Mungkin mengenyangkan, tapi belum tentu bergizi. Kutipan tadi  saya buat – buat sendiri, tidak mengutip siapapun. Semoga tidak ada yang mendebat kata bijak yang mungkin “serampangan” ini.

Memulai pelajaran dengan cara yang menarik.

Gunakan topik-topik sejarah bila perlu.

Gunakan alat peraga secara efisien dan efektif.

Sediakan perlengkapan penemuan oleh siswa.

Akhiri pelajaran dengan sesuatu yang menyenangkan.

Demikian urutan pemaparan Max A. Sobel dan Ivan M. Maletsky dalam pembahasan bab pertamanya tentang seni mengajar yang baik. Dalam pemaparan masing – masing sub-bab tersebut, penulis tidak melulu memberikan teori dan retorika. Melainkan disajikan tawaran aktifitas pembelajaran yang konkrit didalam kelas. Mulai aktifitas topik Geometri, Aljabar, Statistika, hingga kalkulus. Dengan berbagai kemasan permainan hingga kontruktifisme pembelajaran.

Nah diantara urutan sub-bab diatas, yang sedikit jarang dilakukan oleh guru matematika adalah “Menggunakan topik – topik sejarah”. Lhoh, matematika kok pakai sejarah? Emang penting gitu..!!? hem

Ya, satu cara untuk membuat matematika hidup adalah dengan menggunakan artikel – artikel sejarah. Untuk menunjukkan bahwa matematikawan adalah manusia biasa, punya kelemahan dan punya cerita perjalanan, dan keinginan.

Sehingga murid tidak melulu berpikir bahwa matematika adalah tumpukan angka – angaka, sederetan prosedur dan logika yang memusingkan. Topik sejarah matematika bisa disimak dalam bentuk anekdot, dramatisme ambisi, hingga sisi – sisi lain kehidupan ilmuwan matematika.

Monumen Pierre de Fermatt , Jerman

Salahsatu contoh adalah cerita tentang Teorema Terakhir Fermat.

Diceritakan bahwa di awal tahun 1900-an seorang professor matematika di Darmstardt Jerman yaitu Paul Wolkfskehl, mengalami kegagalan asmara hingga Ia berniat untuk bunuh diri. Namun menjelang detik – detik terakhir Ia bunuh diri, Ia sedemikian tertarik dengan aktifitas pembuktian Teorema Fermat yang misterius.

Hingga waktu yang Ia tetapkan untuk bunuh diri terlewat begitu saja, sampai akhirnya Ia menjadi orang pertama yang berhasil membuktikan teorema itu sejak Pierre de Fermat sendiri meninggal tahun 1600-an. Ia begitu bahagia atas keberhasilan itu. Rencana bunuh dirinya hanya menjadi catatan harian yang tak pernah Ia buka lagi. Singkat cerita, Ia pun memulai lagi hidup baru dengan lebih semangat.

Tentu tetap dibutuhkan improvisasi yang cukup untuk mengantarkan cerita tersebut sehingga menarik perhatian siswa. Tapi paling tidak, anak didik akan sedikit heran dan pasang telinga, karena menyimak cerita sejarah dalam jam belajar matematika tentu bukan hal biasa. Tentu tidak terlalu sering, karena inti matematika juga bukan melulu tentang cerita sejarah.

Yah.., Itulah mungkin sedikit “ilham(baca: inspirasi)” untuk mengantarkan topik Theorema Phytagoras di kelas VII SMP minggu depan.

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

15 thoughts on “Lagi, mengais sebuah inspirasi mengajar.

  1. alangkah menariknya proses pembelajaran yang berlangsung di negeri ini, pak saif, kalau setiap guru terus meng-upgrade diri sehingga mampu mendesain pembelajaran dg cara kreatif dan inovatif. salam peduli anak bangsa.

  2. saya jadi ingat konsep TANDUR dalam pembelajaran yang pernah disampaikan tutor dari konsorsium Pendidikan Islam
    viva pedndidikan

  3. Semoga berhasil ya pak dengan metode barunya, pasti siswanya tdk akan jemu belajar matematika..

  4. wah jadi kangen masa2 belajar dulu,,, hehe coba semua pengajar punya inisiatif seperti anda, pasti banyak murid yg nggak jenuh dan semakin aktif….

  5. melo banget ni pak guru..

  6. Dari 5 poin yang dicetak tebal di atas, poin 3 dan 4 tak ada masalah. Untuk poin 1 yaitu: “Memulai pelajaran dng cara yg menarik” harus sedikit hati-hati. Biasanya menarik di sini adalah menarik untuk sang guru sendiri dan belum tentu untuk sang anak didik. Misalnya banyak yang menyangka nyanyian adalah media yang menarik untuk pembelajaran. Bagi mayoritas mungkin iya, namun bagi sebagian lainnya yang tidak begitu suka seni suara bisa jadi nyanyian hanya menghambat pembelajaran saja.

    Poin ke-2 “Gunakan topik-topik sejarah bila perlu”. Jikalau dimaksudkan untuk memperjelas materi pembelajaran atau menambah pengetahuan umum para siswa tentu saja hal tersebut sangat baik. Namun kalau topik sejarah untuk membuat materi pembelajaran lebih menarik, nah inipun harus hati-hati karena tidak semua anak tertarik atau mengerti dengan sejarah, salah-salah penggunaan topik-topik sejarah malah justru membuat bosan si siswa. Apalagi jikalau gaya berceritanya membosankan…

    Poin 5 “Akhiri pelajaran dengan sesuatu yang menyenangkan”. Ini juga harus hati2. Karena setiap murid definisi menyenangkan itu berbeda2. Kita memang hampir tidak mungkin dapat menyenangkan semua hati siswa kita, yang penting di sini menyenangkan adalah harus sesuatu yang juga dapat dimengerti dan difahami serta dinikmati oleh anak seusia mereka bukan dengan standar kita sebagai orang dewasa. Kalau bisa sesuaikan dengan keadaan zaman kini dan bukan sesuaikan dengan zaman kita anak-anak dahulu.

    Saya tidak mengatakan poin 1,2 dan 5 tidak tepat. Namun begitu poin2 tersebut butuh kehati-hatian dan elaborasi lebih lanjut agar poin2 tersebut lebih berhasil lagi…🙂

    • masukannya mengena pak.
      memang pada tataran teoritis kayaknya meyakinkan, tapi eksekusi perencanaan yang tidak mudah. butuh kehati2an dan jam terbang…

      tidak banyak yang memperhatikan sedetil itu tatkala membaca posting diatas.
      totalitas p yari dalam mencerna membuat saya salut.

  7. Mas Saiful,
    dijaman saya dulu tidak ada pengembangan metode-metode pengajaran seperti ini, tapi saya selalu senang jika pelajaran matematika, karena saya rasa matematika itu mudah (benci hapalan), selain itu gurunya cantik….hehehehe…

  8. Berkaraya selalu membutuhkan pengembangan yang inovatif, agar tidak menemukan kejenuhan dalam mengajar.

    Dengan Mengatasi Permasalahan Yang Kecil; Maka, Kita Akan Dapat Mengatasi Permasalahan Yang besar.

    Sukses selalu.

    Salam ~~~ “Ejawantah’s Blog”

  9. Masalah yg besar karena kesuksesan maslah2 yg kecil.. bukan begitu mas..?he.
    trimaksih sukses selalu juga..

  10. salam kenal, kunjungan balik ditunggu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s