Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Mahalnya mimpi anak bangsa.

18 Komentar

Tahukan anda dengan program “Indonesia Mengajar” ?

Seandainya saya masih muda ,- setidaknya lima tahun yang lalu- mungkin libido petualangan saya akan bergejolak jika mengetahui tantangan program yang digagas oleh rektor Universitas Paramadina, Anis Bawesdan tersebut. Itupun kalau lolos seleksi. He

Program Indonesia Mengajar adalah program pengiriman sarjana – sarjana muda berprestasi ke daerah – daerah pelosok tanah air oleh Yayasan Indonesia Mengajar.

Para sarjana dari berbagai jurusan tersebut menjadi guru di sekolah – sekolah SD di derah terpencil di luar Jawa. Daerah tanpa sinyal HP, apalagi internet. Tentu dengan pembekalan mental yang cukup oleh penyelenggara program.

Menyentuh sendi – sendi anak – anak pedalaman. Dengan pencapaian prestasi mereka, diharapkan mampu membangun inspirasi anak – anak pedalaman untuk bisa bermimpi menjadi generasi yang bisa jauh melompat dari keterbatasan dan ketertinggalan.

Telah terpilih 50 sarjana terbaik dari ribuan sarjana muda yang mendaftar. Jika menilik profil mereka yang terpilih di website admin program tersebut, nampaknya motivasi mereka tidak semata – mata untuk mencari pekerjaan.

Yang benar saja ! Sarjana Teknik Informasi ITS misalnya, ingin jadi guru SD di pedalaman?, Emang anak pedalaman mau diajarin Visual Basic? he2. Apalagi dengan uang saku hanya 3 juta perbulan. (Tapi gak tahu juga kalau ada dana penghargaan khusus diakhir program. Hmm lumayan buat modal ..)

Lantas mencari sensasi dalam pengalaman kerja ? kalau itu, mungkin. Namanya juga anak muda. Libido anak muda inilah mungkin yang dimanfaatkan oleh Anis Bawesdan, tokoh muda Indonesia yang sempat masuk dalam “ 100 tokoh Intelektual Dunia” bersama Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington dll., untuk memunculkan program tersebut.

Memang, mereka hanya terjun di daerah terpencil selama satu tahun, tidak lebih. Tak heran banyak juga sarjana – sarjana muda yang berminat. Selain berkesempatan untuk meraih petualangan, toh mereka juga tidak selamanya disana. Tidak seperti guru yang sebenarnya. Yang mesti mengabdikan hidupnya dengan keterbelakangan dan keterbatasan fasilitas.

Konon, program serupa pernah dilakukan sekitar tahun 1950 oleh pemerintah melalui program Pengiriman Tenaga Mahasiswa (PTM). Selama kurun waktu tahun 1951-1952, PTM berhasil mengirimkan seribu lebih mahasiswa untuk mengajar di berbagai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ( SLTA) di 97 titik daerah terpencil di luar Jawa.

Dan hasilnya, program PTM ini berhasil meningkatkan jumlah luusan SLTA dari kalangan masyarakat biasa yang terinspirasi atau terbantu untuk kuliah. Sebelumnya, hanya bangsawan dan orang berada saja yang bisa menjadi mahasiswa. [ sumber media kompas ]

Ada kaitan program ini dengan saya.

Ya, program tersebut mengingatkan saya dengan pengalaman pertama saya menjadi guru di Kalimantan lima tahun yang lalu. Menjadi guru SD di sekolah pedalaman, hampir 16 jam perjalanan darat dari Ibukota Pontianak Kalimantan Barat.

Duabelas jam dengan bus lintas malam dari Pontianak, menuju kabupaten baru di ujung timur propinsi itu. Dilanjutkan dengan 2 jam naik perahu cepat speedboat menyusuri sungai. Lalu 1,5 jam perjalanan mobil menembus semak belukar dan hutan alam. Menjadi guru disebuah sekolah fasilitas milik perusahaan perkayuan. Di lokasi tanpa sinyal HP. Tanpa internet.

Dok pribadi: SD yang berada ditengah hutan lindung bukit Baka Kalteng

Memang sensasi alamnya sungguh luar biasa. Fasilitas terbilang cukup, karena rumah dan makan disediakan perusahaan. Ada taman dan fasilitas olahraga. Tapi lama – kelamaan harus berjuang juga dengan rasa bosan dan keterbatasan. Untuk mendapat sinya HP harus berkendara mobil selama kurang- lebih satu jam keluar hutan. Itupun harus naik bukit. Namun belakangan, dilokasi tersebut kini sudah terjangkau sinyal selluler bahkan berbasis 3G. He..jadi ingat masa lalu

Saya masih ingat sorak ceria anak- anak SD calon murid saya, ketika saya baru datang dan diperkenalkan menjadi guru baru mereka.

“ Hore…!!” sambil bertepuk kegirangan-entah apa yang membuat mereka girang. Mereka saling berbisik sambil melirik saya. Terlihat menyebut – nyebut nama saya.

Selalu demikian jika ada guru baru. Ada figur yang melekat pada benak mereka tentang sosok guru baru. Figur semangat baru, cerita baru, harapan baru dan mimpi – mimpi baru. Terlebih jika mereka tahu gurunya datang jauh dari pulau jawa.

Sungguh wajah – wajah lugu anak – anak bangsa yang sebenarnya juga punya potensi yang luar biasa. Potensi mereka begitu nyata, jika mendapat sentuhan – sentuhan bimbingan yang baik.

Tercatat, salahsatu dari mereka pernah menjadi juara II Olimpiade Sains Nasional tingkat provinsi Kalimantan Barat. Dan berkesempatan mewakili kalbar di ajang OSN di Makasar tahun 2008.

Saya bersyukur punya pengalaman sebagai salahsatu pembimbingnya. Berprestasi dalam lomba memang bukan tujuan utama dari sebuah pembelajaran. Tapi itu juga sedikit bukti bahwa anak pedalaman juga punya potensi. Tinggal bagaimana membantu mereka membangun mimpi meraih prestasi.

Figur pemberi inspirasi, lalu membangun mimpi adalah yang termahal dari sebuah karya guru. Novel Andrea Herata ” Sang Pemimpi” adalah penggambaran pentingnya nilai itu.

Catatan : Tentang program Indonsia Mengajar dapat dilihat di http://indonesiamengajar.org

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

18 thoughts on “Mahalnya mimpi anak bangsa.

  1. Mas, saya terkesan sekali membaca tulisan ini. Seandainya program-program diatas lebih sering diadakan, bisa dibayangkan berapa banyak calon-calon intelektual muda lainnya yang akan membawa kemajuan besar bagi bangsa Indonesia.
    Sukses selalu mas. Salam dari bali.🙂

  2. slam balik mas dari kalimantan timur..

  3. Beberapa waktu yang lalu ke pedalaman kalteng dan saya maih menemukan kondisi yang sama dengan sepuluh tahun lagu, satu SD hanya ada 3 guru. Kapan negeriku ini akan maju?

    Kalau mas Syaiful masih enak pengalaman pertamanya😀

  4. semoga tulisan pak Guru dibaca petinggi di negeri ini

  5. Wah kabar yang bagus, saya juga baca di beberapa teman blogger tentang program ini semoga Indonesia dapat bertumbuh dan berkembang lebih baik lagi melalui peningkatan kualitas pendidikan🙂

  6. betul mas… , sapa tahu mas luki pingin ikutan daftar? he.

  7. makasih mas…saya sedang mencari referensi bagaimana memotivasi anak2 usia SD

  8. Assalaamu’alaikum mas Saiful…

    Sahabat…. Tiada embun yang lebih bening selain beningnya hati
    Di bulan Zulhijjah, Iedul Adha kembali menyapa hari
    Kemaafan dipohon untuk khilaf dan salah jika mengkhianati
    Sebuah pengorbanan tulus jadi iktibar membaiki diri

    Mohon Maaf Lahir dan Bathin

    Salam keindahan Iedul Adha 1431 H dari saya di Sarikei, Sarawak.

  9. wa’alaikum salam
    Senang rasanya Bunda Siti muncul di blog saya.

    Maaf bunda Siti saya baru balas kunjungannya. Karena berbagai kesibukan offline saya di sekolah.
    Selamat Hari Raya Idul Adha juga buat bunda Siti sekeluarga semoga sehat dan diberkati Allah selalu.
    Salam hangat balik dari Kalimantan Timur. Indonesia

  10. saya sungguh terkesan membaca tulisan ini…
    salam kenal buat adminya…🙂

  11. Jiwa petualangan saya seperti bangkit kembali membaca post ini. Tapi sama seperti yang penjenengan bilang, sy dah gak muda lagi dan punya tanggungan ngurusi anak isteri. Yang penting mari kita bekerja di tempat masing dengan penuh keikhlasan. Insya Allah hasilnya baik.

  12. kadang saya iri dengan guru2 yang bisa punya pengalaman lebih..
    semoga semangat mengabdi mereka menjadi insprirasi guru muda lainnya

  13. Assalaamu’alaikum mas saiful..

    Hadir untuk mengucapkan Selamat menyambut Maal Hijrah 1432.
    Semoga kehadiran tahun baru Islam akan mengorak langkah penghijrahan yang lebih bermanfaat untuk kejayaan hidup di masa depan.

    Salam keindahan Awal Muharram.
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀

    *******

    Mengajar tidak akan pernah melelahkan bagi guru yang menjiwai bidang keguruannya walau di mana dia dihantar untuk mengajar. yang pasti guru sebenar guru, ke sekolah tidak jemu mengajar tidak lesu.

    semoga kita bisa menjadi guru sebenar guru , mas.😀

  14. Berkunjung lagi tuk menyapa sahabat!
    Semoga tetap sehat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s