Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Ritual alternatif pergantian tahun (republish article)

1 Komentar

Beberapa hari terakhir, kita disuguhi sebuah ritual dan penghayatan untuk menyongsong tahun baru. Dari mulai hiruk pikuk pesta kembang api hingga haru biru renungan orang – orang yang mencoba mengangkat tema kesedihan dan harapan menyongsong tahun berikutnya.

Ulasan para pengamat tentang uraian kilas balik, harapan dan tantangan tahun berikutnya berada pada puncak rating topik yang disiarkan media cetak dan televisi. Mulai dari katebelece politik, bencana alam dan sosial, peruntungan ekonomi hingga tetek bengek dunia selebritis.

Meskipun tidak sedikit yang cuek dan skeptis dengan topik pergantian tahun. Bagi mereka, toh akhir tahun yang lalu juga seperti ini. Dan perjalanan roda kehidupan tak ada yang mengejutkan. Seperti episode – episode sinetron yang diputar berulang – ulang. Begitu antusias dan penuh misteri di awal – awal, tapi sampai bosan menyimak dan menunggu, yang terjadi adalah kejadian monoton tanpa ada gebrakan perubahan baru. Bagi sebagain dari mereka, yang penting pesta. Yang penting senang – senang.

Sering orang memandang tahun baru identik dengan sebuah perayaan, tanpa tahu dan tidak memandang penting apa yang mesti dirayakan. Karena hakekat tema yang harus dirayakan tertutup oleh kemasan – kemasan acara berbau hedonisme dan acara – acara komersial. Dari mulai kemasan pesta perayaan tahun baru di diskotik, hiburan musik di lapangan kota, hingga sekedar acara kumpul bareng untuk makan – makan dan mabuk mabukan. Dari mulai perayaan megah di Taman Impian Jaya Ancol Jakarta, hingga sekedar bakar ayam, kambing atau babi di tengah hutan bagi yang kebetulan terjebak dalam keterbatasan.

Tiadakah hikmah yang dicoba untuk dipetik dari pelbagai fenomena?atau kepedulian pada sesama?.

Masyarakat miskin dan tidak beruntung kian tidak percaya dengan nilai – nilai kebersamaan, sebab ketika mereka lapar ternyata tetanggganya ada yang berpesta. Mereka kian bertele – tele dalam penderitaannya sehingga harapan mereka tinggal keyakinan nikmat “akherat”. Sebab kenikmatan dunia sudah di bajak oleh orang – orang yang tak menerapkan nilai kepedulian pada sesama. Dan bagi yang tidak berkeyakinan, mereka bagai kucing lapar yang ganas yang siap merampas kenikmatan dengan cara mereka sendiri.

Dengan masih compang – campingnya negeri ini, tentu tidak ada alasan untuk harus berpesta. Harus ada ritual alternatif yang mengemuka untuk menyongsong tahun baru.

Kita mulai dari diri kita dan keluarga, dan lambat laun merembet pada kesadaran orang – orang disekelilinng kita. Kita tumbuhkan nilai kesadaran bersama dan nilai – nilai empati terhadap orang – orang yang belum beruntung dalam momen pergantian tahun baru. Kita tanamkan pengertian dan kepekaan sosial pada generasi sesudah kita. Agar mereka kelak selalu punya dialektika syukur yang benar dalam kehidupannya. Bukan syukur yang selalu diidentikkan dengan kemasan acara berbau hedonisme belaka.

Kita bangun bersama sebuah harapan, karena harapan adalah obat paling manjur dalam setiap keterpurukan. Ketika Pandora, wanita pertama di dunia dalam mitologi Yunani membukakan kotak hadiah bagi suaminya, berhamburanlah pelbagai hal buruk ke dunia, kecuali harapan. Pandora buru – buru menutup kotak itu agar harapan tidak ikut keluar dan jatuh di dunia. Karena rupanya Ia diciptakan untuk meghukum dunia dan tidak menghendaki manusia selamat dan bahagia. Pandora benar – benar tahu bahwa harapan adalah obat manjur bagi manusia yang sedang tertimpa masalah dan keterpurukan. Mari kita jadikan tahun lalu sebagai renungan dan pelajaran, dan kita jadikan tahun baru penuh kebersamaan untuk menumbuhkan harapan.

(* Maaf, bukan bermaksud plagiat. Posting ini adalah adaptasi dari artikel saya yang sempat terbit di Pontianak Post tahun 2008. Mungkin kurang kreatif saja.

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

One thought on “Ritual alternatif pergantian tahun (republish article)

  1. Yup! Memang benar sich tidak ada alasan yang jelas untuk merayakan tahun baru di tengah suasana yang carut marut seperti ini . . . but this is a tradition! Memang tradisinya seperti ini dari awal jadi tentu akan sulit merubahnya😦

    Boleh request exchange link? Link anda sudah saya truh di –> Sahabat

    Dengan nama : ghotzblitar

    mohon sekiranya bersedia untuk tukar link🙂

    oh ya tolong taruh link saya dengan nama : Tutorial SEO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s