Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Refleksi : Diri kita yang baru atau cermin yang diganti?

Tinggalkan komentar

image:news.megabyet.net

Kalaupun tidak merasa merayakan, mengamati berbagai rona penghayatan dan perayaan tahun baru adalah hal yang tak terelakkan. Di dalam hutan sekalipun, tidak ada yang menjamin kita terhindar atau terbebas dari akses perayaan itu. Termasuk juga saya.

Tatkala berada di tengah keterbatasan lokasi kerja di tengah hutan, bakar – bakar ikan dan ayam adalah hal yang biasa. Sekedar memecah sunyi dan tidak terasa asing dengan hingar bingar dunia.

Inginnya sih saya tidak terlalu pusing dengan tahun baru, karena hanya pergantian satuan waktu. Bagi saya jauh lebih penting pergantian tahun ajaran baru sekolah. Atau mungkin pergantian bulan karena tentu akan segera gajian, hehe.

Mungkin ada yang mendebat : “ Ah, itu faktor umurmu yang mulai tua. Selera senang – senangmu sudah mulai usang!!”. Masuk akal juga memang, tapi toh masa muda dulu tidak sehedonis anak – anak kebanyakan. Tapi eits., sekarangpun saya masih muda!!

Tapi menghayati pergantian waktu demi sebuah renungan perbaikan, saya yakin juga tidak berdosa. Hanya kebetulan satuan waktunya kali ini adalah tahun, yang mengikuti kalender Masehi. Bagi yang punya hujjah ( baca: keyakinan pendapat dalam islam) bahwa merayakan tahun baru Masehi berdosa, saya hormati. Selama tidak menghakimi orang lain yang berpendapat berbeda.

Saya coba menelusuri status facebook di momen pergantian tahun. Tidak terlalu banyak yang mengucapkan : Selamat tahun baru, Hepi nyu year, bla.. bla.. bla…. Kecuali anak – anak remaja SMA murid saya. Selebihnya terlihat berkomentar skeptis, ingin menunjukkan tak acuh dengan momen pergantian tahun. Namun tetap saja menandakan gatal nalurinya untuk menanggapi hiruk pikuk pergantan tahun. Termasuk juga saya. Hehehe.

Lalu apa maksudnya menulusuri facebook segala ? yah, hanya mencoba menengok aktifitas komentar status kawan – kawan terkait momen ini. Memastikan hipotesis saya, bahwa sebenarnya yang mayoritas antusias dengan sorak sarai pergantian tahun baru adalah anak – anak remaja. Selebihnya hanya menyesuaikan diri dengan arus semata. Hanya beberapa yang serius mengisi status dengan do’a.

Ada saja hal yang bisa saya renungkan terkait momen pergantian tahun. Lima tahun terahir setelah lulus kuliah, saya melewati masa – masa pergantian tahun dalam suasana yang berbeda – beda. Tangal 31 Desember 2005 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di daratan Kalimantan, setelah dua hari berlayar dengan kapal Senopati Nusantara yang belakangan sudah tenggelam di laut Jepara.

Dan malamnya, tepat malam tahun baru 2006 adalah kali pertama saya melewati malam tahun baru di Kalimantan. Di sebuah lokasi yang entah berantah, namun semarak oleh suasana kumpul – kumpul kolega baru yang mengadakan bakar ayam dan ikan.

Semenjak itu sampai pergantian tahun yang ke lima, meski dinamika perjalanan sudah sedemikian panjang saya mencoba merenung apakah saya masih di entah berantah? Entah berantah karena saya belum akrab dengan suasana, atau entah berantah karena diri saya yang belum terasa berubah?

Titel S.Pd juga belum berubah M.Pd. Status KTP juga masih “tdk kawin”. Saldo tabungan nominalnya juga masih dalam susunan digit kedelapan. Kemudi kendaraan pribadi juga masih lurus horisontal bukan lingkaran. Namun tunggu dulu!. Dalam refleksi yang bertubi – tubi, jangan – jangan yang selalu berganti-ganti adalah cermin, bukan perbaikan diri saya.

Kalau ganti tahun- ganti cermin, kita hanya menghabiskan energi untuk melakukan refleksi menuju arah tampilan jatidiri yang tidak jelas. Melihat kawan sudah bertitel M.Si, termotivasi untuk mengikuti. Melihat tetangga punya mobil, kepingin beli. Melihat kolega meraih promosi jabatan, ingin rasanya mengejar. Bisa – bisa seperti mengejar bayang – bayang sendiri. Mestinya cerminnya tetap, namun jatidiri yang berubah menjadi lebih baik.

Maaf saja jika tulisan ini mulai terasa absurd, abstrak, mengambang, atau bahkan cenderung tak jelas. Intinya, meski akselerasinya pelan seyogyanya makin hari kita semakin baik. Itu saja.

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s