Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

UN: Dari perdebatan ilmiah hingga obrolan di warung kopi.

Tinggalkan komentar

Dengan berbagai argument dan cara pandang, Ujian Nasional memang banyak mengalami penolakan. Argumen dengan pendekatan keadilan, philosofisnya, hingga akademik pedagogiknya. Ujian Nasional yang menentukan kelulusan dianggap tak adil bagi sebagian peserta didik.

Masih ada ketidaksamarataan fasilitas belajar dan SDM guru di setiap sekolah. Jadi belum fair jika dilaksanakan Ujian Nasional. Penolakan lebih radikal mengatakan Ujian Nasional tidak perlu. Hasil belajar dan kelulusan sepenuhnya otoritas guru di sekolah. Begitulah kurang lebih inti penolakan itu.

Penolakan yang tentu membuat pihak kementrian pendidikan harus bekerja ekstra dalam mengcounter setiap penolakan dengan sederetan program sosialisasi dan diskusi. Penolakan kebijakan Ujian Nasional selain getol di sampaikan oleh praktisi pendidikan dan sosial, guru yang tergabung dalam paguyuban PGRI yang notabene eksekutor kebijakan pendidikan di lapanganpun menyampaikan penolakan secara formal.

Dalam ranah hukum,memang  telah keluar putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan gugatan elemen masyarakat terhadap pelaksanaan Ujian Nasional. Meski putusannya diinterprestasikan bukan sebagai larangan, namun bagaimanapun juga legitimasi kebijakan UN menjadi kian tergerus.

Orang awampun kian lancar mendebat pentingnya Ujian Nasional. Meski kadang dengan argument yang serampangan dan terkesan dangkal sebab tidak didasari kajian dan diskusi yang dalam. Melainkan karena seringnya mendengar ulasan pengamat – pengamat di TV, opini di koran –koran atau sekedar obrolan di warung kopi.

Sedangkan guru mestinya memposisikan diri dalam kontroversi ini dengan bijak. Memahami hakekat, latar belakang, sejarah dan filosofis Ujian Nasional dalam sisi positif tentu lebih baik. Bukan justru mempekeruh kontroversi dengan komentar – komentar yang dangkal dan serampangan. Dan tetap berusaha menjaga kejujuran pelaksanaannya sesuai kemampuan ditengah pressure keberhasilan yang tinggi.

Dalam beberapa kesempatan diskusi dengan siswa, saya selalu bilang : ” Berjuanglah menjadi menteri pendidikan atau anggota DPR, maka kamu punya kesempatan merubah kebijakan pemerintah. Sekarang saatnya berjuang untuk mencapai nilai terbaik dalam belajar, bukan ikut – ikutan mendebat Ujian Nasional !”. Menjawab diskusi dengan siswa yang kritis memang harus hati – hati. Agar mereka tetap tertanam sikap positif dalam melihat realita perubahan dan polemik di masyarakat.

Arus penolakan UN memang seperti efek bola salju. Makin lama semakin besar . Entah karena makin lemahnya penopang politik pemerintah di DPR, atau memang kesadaran pemerintah akhirnya Ujian Nasional tidak lagi menjadi salahsatu penentu yang memveto kelulusan siswa untuk tahun ini.

Melalui permendiknas no 45 tahun 2010, poin terpenting tentang formula kelulusan Nilai Akhir siswa (NA) dinyatakan sebagai berikut :

NA = 0,60 UN + 0,40 NS

NA = Nilai akhir

UN = Nilai Ujian Nasional

NS = Nilai Sekolah Untuk mendapatkan

NS (Nilai Sekolah) digunakan rumus ;

NS = 0,60 US + 0,40 RP

NS = Nilai Sekolah US = Ujian Sekolah

RP = Nilai rata-rata semester 3, 4 dan semester 5 untuk tingkat SMA/SMK , sedang untuk SMP Nilai rata-rata semester 1, 2, 3, 4, dan semester 5.

Untuk kriteria kelulusan UN saat ini adalah ;

Apabila rata-rata NA minimum 5,5 dan tidak ada nilai di bawah 4,0.

Jadi seandainya siswa mendapat nilai UN matematika 2,0 sekalipun, jnamun Nilai Sekolah (NS) mendapat 8,0 maka nilai akhirnya (NA) = 60%.2 + 40%.8 = 4,2. Masih diatas ambang minimal kelulusan.

Efek terbesar negatif dari perdebatan ini menurut saya  adalah tindakan pembenaran secara terselubung dalam melakukan kecurangan oknum – okum pelaksana pendidikan. Kejujuran tentu harus diutamakan. Yang menjadi masalah, siapa yang rela introspeksi dan mawasa diri jika ada siswa yang tidak lulus??

Memang, masih ada celah dalam melakukan kecurangan untuk mengangkat Nilai Akhir (NA) siswa melalui mark up Nilai Sekolah (NS). Jika dengan formula seperti ini kecurangan masih dilakukan, entah kontroversi apalagi yang dijadikan pembenaran atas tindakan itu. Semoga saja tidak.

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s