Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Peci seorang guru..

Tinggalkan komentar

peciMengutip anekdot ringan dari seorang motivator dalam seminar motivasi guru beberapa hari lalu.  Dulu, jika guru meletakkan peci hitamnya dimeja lalu ditinggal  keluar kelas sebentar, ke toliet atau entah kemana, tak ada murid yang berani mendekat apalagi menyentuhnya.

Nah sekarang?? Coba guru taruh kopyah dimeja dan ditinggal pergi. Bisa dibuat “bal – balan “  ( baca: maen bola) itu kopyah. Spontan kami tertawa mendengar anekdot tersebut. Terpingkal pingkal bahkan. Karena terbawa suasana pembawaan motivator.

Tentu bukan lucu-lucuan semata. Jika ditelisik tentu itu sebuah fenomena. Tentang lunturnya nilai budi pekerti generasi jaman sekarang. Dimana rasa hormat dan tawadhu’  anak jaman sekarang sangat berbeda dengan generasi anak duapuluh tahun yang lalu.

Budi pekerti memang sudah lama lenyap dari sebaran pelajaran hampir sepuluh tahun lebih. Mata pelajaran tersebut diangap remeh adanya. Di raport, nilai sepuluh sekalipun tidak ada anak atau  orangtua yang mebanggakannya. Tentu beda jika nilai 90 pada pelajaran matematika.

Beberapa hari sebelumnya saya mengalami hal yang persis dengan anekdot diatas. Tapi bukan masalah kopyah, karena saya bukan guru agama. HP smartphone yang tergeletak dimeja kerja tiba- tiba lenyap bersamaan pulangnya anak – anak. Sekembalinya saya tinggal sholat. Ada salahsatu anak yang sengaja mengambilnya. Mungkin karena tertarik. Dan saya yakini bukan lantaran ingin dijual karena kekurangan uang. Karena disekolah saya rata – rata siswanya anak kalangan ekonomi mengah keatas.

Alih – alih rasa takut mendekati benda berharga dimeja guru. Hp yang saya tinggal dimeja kelas  tidak lebih dari 10 menit untuk sholat malah dicuri seperti memungut permen saja. Hmm..nyesek juga rasanya, hehe. Rasa hormatnya mengalahkan keinginannya untuk memiliki barang dengan cara yang tidak benar.

Antara lemas, marah, kecewa dan prihatin campur aduk jadi satu begitu saya sadar saya kehilangan  HP smartphone yang baru saya beli. Pukulan telak bagi saya sebagai seorang guru. Yang juga mengemban tanggungjawab moral atas budi pekerti anak didiknya.

Kasus seperti itu memang sangat langka disekolah saya. Bahkan itu mungkin yang pertama kali. Sebab motivnya dipastikan bukan masalah nilai ekonomisnya. Tapi lebih kepada rasa ingin memiliki suatu barang. Jadi saya mesti hati – hati menyelesaikannya. Jika saya gegabah dan mengedepankan amarah alih – alih HP ketemu, yang ada saya bisa dituntut orangtua murid karena menuduh anak tanpa bukti. Ujung – ujungnya saya dituduh lupa naruh dan mengada-ada. Kalau uda begitu tentu lebih sedih lagi.

Untungnya, saya menyelesaikan kejadian dengan sangat terukur dan hati – hati.  Saya kumpulkan anak – anak yang kebetulan masih ada. Memberinya nasehat dan arahan atas tindakan yang kurang baik. Harapan saya yang mengambil sadar dan mengembalikannya tanpa takut atas hukuman dan amarah gurunya.

Saya sadar mereka masih anak-anak yang memang masih belajar nilai – nilai kebaikan dan penghargaan. Saya tunggu di ruang kelas hingga sore, berharap HP saya bisa kembali. Namun hasilnya nihil. Alhasil saya pulang dengan rasa kecewa sembari  berpikir keras bagaimana solusinya.

Esok paginya ketika saya masuk ruang kelas, smartphone yang kemarin hilang tergeletak manis diatas meja. Wah.., sedikit melegakan. Pagi – pagi sekali rupanya si pengambil meletakkan kembali dimeja kelas saya.  Saya bersyukur dia masih punya kesadaran. Sayangnya sampai sekarang belum ada yang mengakui siapa yang telah mengambilnya.

Saya berpikir positif saja. Mungkin yang mengambil ada rasa bersalah dan mengembalikannya. Tanpa harus diintrogasi dan terbukti. Selebihnya biarlah pihak kesiswaan yang menanganinya.

Ada pelajaran berharga juga buat saya sebagai guru. Yang telah ceroboh memberi mereka kesempatan mencuri meskipun mereka tiada niat awal melakukannya. Atau terlalu  tinggi ekspektasi saya akan nilai budi pekerti anak- anak  jaman sekarang. Ibarat meletakkan peci saya dimeja, rupanya sudah dipakai “bal-balan”( baca: maen bola) anak murid saya. Ckckck..

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s