Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Tentang secangkir teh,,

3 Komentar

Image: bakmiejogja.com

Image: bakmiejogja.com

Selalu saja ada sesuatu yang dapat kita tulis dari banyak hal yang ada dalam pikiran dan kejadian sehari – hari. Seperti pagi di awal liburan ini. Ketika saya duduk dimeja makan sambil menyeduh teh tubruk ( istilah sajian teh ala kampung saya, teh dalam bentuk racikan daun teh kering yang diseduh).

Begitu teh yang saya aduk sudah mulai keruh, saya menambah sedikit gula. Saya aduk –aduk lagi dan sesekali memukulkan sendoknya di dinding gelas.” Ting , ting..!!”. Suara adukannya khas seperti kebiasaan nenek saya. Sambil menunggu teh sedikit lebih dingin saya mencoba menulis hikayat sederhana dari sebuah sajian secangkir teh.

Tentang pengalaman prajurit muda di Perang Dunia II. Tak perlu berkerut keningnya untuk menyimak, karena ceritanya sederhana. Bukan tentang pelajaran sejarah.

Beberapa prajurit muda Inggris yang baru direkrut tanpa pelatihan militer yang memadai suatu ketika terjebak dalam kepungan tentara Jepang dalam suatu patroli. Ia begitu panik dan ketakutan ketika melaporkan kepada sang kapten bahwa posisi pasukan mereka sudah dikepung rapat di tengah hutan. Pasukan mereka kalah banyak, dengan perlengkapan tempur yang tak seimbang.

Semua prajurit Inggris tahu bahwa prajurit Jepang terkenal ganas dan kejam. Menyerah dan menjadi tawanan sama saja dengan setor nyawa dengan sadisnya siksaan. Dia berharap sang kapten memerintahkan anak buahnya untuk bertempur untuk dapat keluar dari kepungan musuh. Itu hal jantan untuk dilakukan sebagai tentara. Paling tidak mengajak mati beberapa musuh. Doktrin standar bagi seorang prajurit tempur.

Dalam keadaan yang demikian perintah sang kapten justru diluar dugaan. Sang kapten memerintahkan anak buahnya untuk tetap diam, duduk, dan tidak banyak bergerak. Sang kapten justru memerintahkan untuk membuat beberapa cangkir teh ditengah degupan jantung dan keringat dingin anak buahnya yang terlihat sangat ketakutan.

Buku yang saya beli dan kacamata saya.

Para prajurit muda berpikir bahwa sang kapten pasti sudah gila dan mungkin putus asa. Bagaimana bisa dalam keadaan nyawa terancam masih memikirkan secangkir teh tanpa jalan keluar. Karena etika keprajuritan, perintahpun harus dilaksanakan.   Mereka pikir itu adalah secangkir teh terakhir mereka sebelum mati.

Sebelum teh hangat habis diminum, seorang prajurit pengintai tergopoh – gopoh datang dan berbisik kepada kapten. Sejenak sang kapten menghela nafas dalam sambil menatap wajah anak buahnya satu per satu. Ia menyampaikan berita bahwa musuh telah pergi!!. “ Sekarang ada jalan keluar, kemas perlengkapan kalian, ayo kita pergi. Ingat jangan berisik !!” Begitulah kira – kira bunyi perintah sang kapten.

Merekapun akhirnya pergi dan selamat. Sang kapten sendiri justru mati dalam kesempatan pertempuran yang lain. Sedangkan anak buahnya justru hidup dan menjadi veteran yang dihormati di kerajaan Inggris. Mereka mengenang sang kapten dengan perintahnya untuk membuat secangkir teh dalam keadaan nyawa terancam.

Tanpa ketenangan sang kapten, mungkin saat itu mereka akan bertempur habis habisan melawan masalah yang dihadapi. Dan hasilnya mungkin lebih buruk. Tapi sebaliknya malah membuatkan secangkir teh dan masalahnyapun terlewati.

Dalam keadaan terjepit dan sulit, melawan keadaan kadang bukan solusi. Tapi juga bukan pasrah atau putus asa. Bagi saya pagi ini, menyeduh teh ditemani buku dan laptop sudah cukup menjadikan hidup ini serasa tetap berputar. Seakan lupa kalau saya sudah dua bulan tidak gajian.

Cerita diatas saya nukil dan sedikit saya gubah dari tulisan Ajahn Brahm. Seorang spiritual Budha yang tertuang dalam salahsatu buku spritual Best Sellernya yang berjudul “ Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya edisi ke-1”. Saya beli limapuluh ribu di sebuah toko buku kecil di Pojok Pasar Ramayana Balikpapan. Cukup murah. Maklum edisi cukup lama, tahun terbit 2011. Lumayanlah untuk mengisi inspirasi di awal liburan ini.  Jika tertarik dengan buku tersebut ada review singkat di tautan berikut. Bagaimana dengan liburan anda.??

 

 

 

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

3 thoughts on “Tentang secangkir teh,,

  1. sabar menanti gajian ya, pak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s