Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Visiting Bosscha ..(catatan di kota Bandung:3)

Tinggalkan komentar

Visitng Observatorium Bosscha bersama dosma ITB dan UNPAD

Visitng Observatorium Bosscha bersama dosma ITB dan UNPAD

Perjalanan kami menuju observatorium Bosscha dimulai dari pukul 16.30 dari kantor LAPI ITB menggunakan 4 mobil. Tiga mobil milik dosen pembina magang dan satu mobil milik operasional PT LAPI ITB. Kegiatan visit obsevatorium bosscha sengaja dipilih hari non weekend, selasa. Ini untuk menghindari macetnya lalulintas kearah lokasi observatorium. Jika tanpa kendala macet, perjalanan mestinya hanya menghabiskan waktu 30 menit. Namun macet tetap saja tak bisa dihindari meski tak separah week end,  dan rombongan sampai di lokasi 1 jam kemudian. Hampir bersamaan, rombongandari dosma UNPAD juga datang 15 menit kemudian dari kampus UNPAD jatinangor.

Setelah mengambil photo sejenak di area observatorium, rombongan masuk ruang teropong utama, yang disebut ruang teropong zeiss. Teropong berada dalam bangunan melingkar setinggi sekitar 15 meter dengan atap berbentuk dome setengang bola. Moncong teropong terlihat dari lubang vertikal atap dome. Mirip seperti meriam dari kejauhan. Didalam ruang tersebut rombongan mendapat penjelasan dari salahsatu peneliti astronomi Bosscha yaitu mas Agus.

Dijelaskan bahwa teropong ini adalah teropong tercanggih dijamannya dengan panjang 11 meter, dengan bobot sekitar 17 ton. Dibangun mulai tahun 1923 dan selesai pada tahun 1928. Dulunya teropong yang rancangannya dibuat di Jerman ini milik pribadi Mr Bosscha-seorang astronom yang juga pengusaha teh asal Belanda. Ada motof keilmuan dan politik kenapa observatorium ini dibangun. Abservatorium dihibahkan ke pemerintah Indonesia pada tahun 1949 setelah Indonesia Merdeka.

Teleskop zeiss

Teleskop zeiss

Mengamati bangunan dan teknologi observatorium Bosscha mengantarkan saya menuju suasana era tahun 1920an. Menurut mas Agus, bangunan dan semua perlengkapan utama masih asli. Sebuah tombol dipencet untuk memperagakan teknologi yang dibangun dimasa itu, dan seketika sistem mekanik elektrik menggerakkan atap dome menuju arah yang diinginkan. Sistem penggerak elektrik yang sudah tua terlihat dari suara Gemeretak bunyi tatkala bekerja.

Sistem penggerak elektrik juga dibuat untuk membuat lantai observatorium naik dan turun sesuai kebutuhan. Semua menggunakan tombol yang tersambung dengan generator penggerak. Tahun 1920an sudah ada teknologi generator yang bisa menggerakkan lantai dan atap dome secara otomatis. Saya tidak habis pikir, kok jaman sekarang banyak daerah di Indonesia saat ini masih krisis listrik. Jangan- jangan kita perlu penjajah lagi agar teknologi mercusuar bisa dibangun lagi. Tapi jangan deh, tentu akan sangat menyakiti para pejuang yang mati demi kemerdekaam negeri ini. Hmm,,

Kembali tentang teleskop zeiis. Teropong baja seberat 17 ton yang terpasang mampu bergerak pelan dengan sekali dorongan. Untuk ukuran baja 17 ton, terlihat sangat ringan. Mirip mendorong mobil saja. Memasangnya di tiang penyangga tentu membutuhkan rancangan titik berat yang sangat akurat. Sayangnya kami tidak bisa mencoba untuk mengintip lubang teropong ini untuk melihat objek berjarak puluhan bahkan ribuan kilometer diluar angkasa bumi. Cara mas Agus menjelaskan dengan berbagai analogi dan teori fisika yang mudah dipahami membuat kami cukup punya gambaran bagaimana teropong ini bekerja. Namun kami berkesempatan untuk mencoba teropong bintang yang lain. Sayangnya lagi, cuaca kurang mendukung. Halangan mendung di kota Bandung membuat kami tidak bisa melihat objek bintang di angkasa.

Teleskop Bamberg

Teleskop Bamberg

Setelah selesai pemaparan tentang teleskop utama, kami masuk ruang multimedia. Ruangan mirip gedung bioskop mini ini tersedia untuk pemaparan terkait keberadaan dan fungsi observatorium Bosscha. Dari mulai sejarah, manfaat, dan simulasi melalui slide LCD. Cukup menarik. Pemandu yang juga mahasiswa astronomi ITB terlihat cukup cakap menyampaikan materi.Observatorium ini terbuka untuk dikunjungi oleh pengunjung yang terkoordinir. Bisa dari sekolah, perguruan tinggi atau manapun.

Petunjuk teknisnya bisa dilihat di web:boscha.itb.ac.id.Komplek observatorium Bosscha seluas 6 hektar dulunya ditengah – tengah kebun teh. Namun kini sudah mulai dihimpit pemukiman penduduk. Observatorium  tersebut kini dikelola  oleh ITB untuk laboratorium astronomi FMIPA. Sehingga dibangun juga komplek perumahan dosen dan kelas perkuliahan untuk menunjang aktifitas penelitian.

Namun kini, fungsi observatorium mulai terhambat dengan polusi cahaya kota Bandung yang  perkembangan penduduknya kian pesat. Sebab untuk bisa melihat objek langit yang baik diperlukan keadaan langit yang cerah dan cahaya lampu disekitar observatorium yang seminimal mungkin. Menurut mas Agus,  kini ITB dengan dukungan pemerintah Indonsesia dan Jepang akan membangun pusat observatorium di suatu kawasan di NTT. Karena pertimbangan lokasi dan keadaan langitnya yang jauh lebih baik untuk kegiatan observasi luar angkasa. Semoga saja terwujud.

Anda tertarik untuk berkunjung bersama kolega atau anak didik? silahkan kontak saja panitia di webnya. Untuk bisa masuk lokasi, sayangnya bus  tidak bisa menjangkau. jadi harus dengan mobil kecil.

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s