Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Qullu Nafsin Daaiqatul Mauut …(catatan penyakit Ibu)

Tinggalkan komentar

Di akhir bulan November 2015-saat akhir saya  magang di Bandung, beberapa kali keluarga dirumah telpon. Menyampaikan bahwa ibu saya sakit serius tapi bersikeras tidak mau pergi ke dokter. Saya diminta pulang untuk ikut membujuk ibu agar bisa mendapat sentuhan medis dokter. Selama ini andalannya adalah obat herbal.

Bulan terakhir magang di ITB sangat menguras pikiran dengan sederet tugas dan kegiatan. Selepas acara penutupan di Bali, kegiatan wisata bersama teman –teman dosen magang tidak saya ikuti. Saya langsung pergi ke Blitar menemui ibu.

Alhamdulilah dengan segenap bujuk rayu, saya berhasil ajak ibu ke dokter didampingi budhe (baca:bibi). Alhasil, ibu didiagnosa kanker payudara stadium tiga A!!. Dan dirujuk untuk melaksanakan kemoterapi di Malang.

Dalam teori klasifikasi kanker, stadium 3 A mempunyai ukuran benjolan lebih dari 5cm atau sudah menyebar dan mempengaruhi kelenjar limpa di tubuh. Lalu kelenjar-kelenjar limpa yang sudah terjangkit ini, akan saling merapat dan mendesak jaringan sekitarnya. ( sumber: faktakanker.com). Ibu sangat tertutup dengan penyakitnya, tidak ada keluarga yang tahu persis seperti apa luka di payudaranya.

Meski saya berusaha terlihat tenang,  saya sudah terasa sedih dan merasa akan kehilangan sepanjang perjalanan pulang dari dokter. Entah karena firasat atau apa, ada naluri untuk menyenangkan ibu  saat itu sepulang dari dokter. Saya mampir ke sebuah rumah makan yang cukup mahal untuk ukuran saya  dikota Blitar. Untungnya, didalam tas  ada amplop berisi sisa uang honor magang. Saya intip sejenak sebelum parkirkan mobil di rumah makan, “alhamdulilah cukuplah..!” dalam hati saya.

Ibu sempat menolak masuk, karena khawatir terlalu mahal. Saya coba perlihatkan tampang tenang bahwa ini biasa bagi saya. Seumur-umur memang baru saat itu saya bisa ajak makan ibu di rumah makan mahal. Ibu belum sempat merasakan kebahagiaan jalan-jalan, kuliner dan menikmati kota rantau Balikpapan seperti yang saya rencanakan sepulang saya magang di Bandung.  Penyakitnya membuat harapan itu memudar. Hal yang sempat saya berikan mungkin hanyalah sekelumit kebanggaan, anaknya berhasil menjadi PNS dosen.  Itupun kalo dianggap membanggakan, sebab kebanggaan orangtua kadang terletak pada sesuatu yang tidak diketahui anaknya.

Entah takut kemahalan atau pantangan penyakitnya, tetap saja menu yang dipilih ibu oseng-oseng kangkung, kecambah, tempe dan tahu goreng dengan sambel tomat. Hadehh. Alhasil, tetap saja saya yang kedapatan makan enak. Ikan bakar gurami dan cumi-cumi saya yang habiskan.hehe. Setidaknya, ibu merasa anaknya mampu mengajaknya makan dirumah makan mahal.

Ibu sangat awam denga jenis penyakitnya. Ia hanya sering bandingkan penyakitnya dengan kerabat dan tetangga yang mengalami penyakit yang sama. Dan kebanyakan memang umurnya tidak terlalu lama. Dukungan keluarga sangat berperan dalam keadaan sepeti itu. Alhamdulilah semua keluarga mendukung, dari semua saudara ibu hingga kerabat sepupu mensuport secara moral. Serangkaian ikhtiar pengobatan dan kemoterapi akhirnya dijalani.

Setelah  5 bulan berselang, ibu drop dan diputuskan keluarga untuk dibawa ke Ruma Sakit di Blitar. Dari Balikpapan saya bergegas pulang ke Blitar, dan mendampingi beberapa hari dirumah sakit. Dokter menyatakan bahwa rangkaian kemoterapi harus dihentikan.Dan kanker  ibu sudah menyebar ke tulang belakang hingga ke kaki. “Kemungkinan untuk tetap hidup lima tahun kedepan hanya 20%…!!” demikian ucap dokter dengan mimik serius dan tenang.

Tidak ada tindakan yang bisa dilakukan pihak rumah sakit kecuali meminimalkan kondisi daruratnya. Saya terasa lemas mendengar kata- kata dokter, tapi raut sedih harus saya hindari untuk menjaga psikologis adik dan ayah saya.

Ibuq

Ibu (kanan), dan Budhe (kiri). Mampir makan sepulang dari dokter Utcu  di Blitar.

Ibu masih memburuk tatkala saya harus bergegas pulang ke Balikpapan karena ada hal urgen. Dan tiga hari kemudian tepatnya Rabu sore, 4 Mei 2016, sepulang mendampingi istri yang menjalani operasi laparoskopi, sambil terisak adik saya telpon bahwa ibu telah tiada. Keinginan untuk mendampingi ibu disaat sakaratul maut, tertutup sudah oleh takdir Allah SWT. Innalilahi wainnailaihi rajiuun.

Sungguh cepat penyakit kanker ini menjalar dan menyerang. Padahal enam sebelumnya, ibu masih cukup baik fisknya ( seperti terlihat di foto).

Kullu nafsin daiqatul mauut..Selamat jalan ibu, semoga anak-anakmu mampu membahagiakanmu lewat do’a dan keberhasilannya dalam kebaikan.

Note:

Sekedar share…gejala kanker payudara hanya dirasakan oleh pasien, dan dapat dijelaskan ke dokter atau perawat, seperti sakit kepala atau sakit, sedangkan tanda adalah sesuatu yang pasien dan orang lain dapat mendeteksinya, misalnya ruam atau pembengkakan. Diharapkan kita punya wawasan yang cukup tentang penyakit ini.

Gejala awal kanker payudara ini biasanya ditandai dengan penebalan suatu area dari jaringan di payudara wanita, atau terkadang ditemui benjolan. Walaupun mayoritas benjolan bukanlah kanker, namun, bila menemui benjolan di payudaranya, seorang wanita harus segera memeriksakan diri ke ahli kesehatan (sumber http://http://www.info-kes.com)

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s