Just About Mymind

Karya Dalam Perjalanan

Keterbatasan muncul kebersamaan

Tinggalkan komentar

Bermukim di kota besar Bandung selama kurang lebih enam bulan, tinggal di asrama, uang bulanan yang flat, serta jadwal kegiatan yang tak pasti membuat kami peserta magang harus bisa atur strategi hidup. Terlebih bagi kami yang sudah berkeluarga. Gaji pokok saya dari kampus sudah tak bisa saya andalkan karena kartu ATM sudah “disita” istri untuk keperluannya setiap bulan selama saya tinggal untuk magang. Jadi saya harus optimalkan uang bulanan dari dikti. Untuk itu  kami peserta magang membahas strategi bagaimana agar bisa mengelola makan sehari – hari diasrama selama magang.

Di malam kedua tingal di asrama, dengan komposisi peserta magang yang belum lengkap kami rapat kecil di asrama. Belum saling mengenal latar belakang  yang beragam antar peserta magang membuat rapat kecil jadi sedikit kaku.  Pak Jay- dosen STMIK  AMIK Riau mengawali ide agar dikelola sendiri tapi menyerahkan sepenuhnya kepada ibu-ibu yang  pandai memasak. “Masalahnya siapa yang bersedia masak ??” Demikian pertanyaan dari banyak dosen magang yang lain. Diskusi sedikit ”mbulet” diawal rapat. Apalagi belum terbentuk figur pemimpin diantara kami sehingga diskusi tidak terarah.

Ada dua  pilihan utama yang jadi isu diskusi. Patungan dana untuk  dikelola bersama, alias masak bareng-bareng, atau dikelola bu Aan-istri penjaga asrama tamu ITB. Tentu masing – masing ada konsekuensinya. Kami sadar semua dosen tidak punya ukuran yang sama dalam hal penghematan. Ada yang memang ingin hemat, ada juga yang tidak perlu hemat. Yang penting praktis, tidak repot- repot masak agar fokus dalam rangkaian kegiatan magang. Ada juga yang memprioritaskan kekompakan, dan sebagainya. Cara pandang,  kebiasaan, selera dan gaya hidup kami yang beragam membuat kami berusaha keras untuk mencari titik temu bagaimana mengelola uang dari dikti dengan optimal. Itu  konsesus pertama yang kami coba perjuangkan diawal pertemuan.

Belum lagi berbicara masalah selera jenis masakan. Akan lebih panjang ceritanya. Bu Tika-dosen asal palembang, bu  Dini- dosen  menado, bu Nisa-dosen asal Bengkulu dan bu Yanti-dosen Palembang keturunan Padang sudah pasti tidak bisa lepas dari “cengek” ( bahasa sunda) alias cabe dalam setiap makanan. Belakangan mereka disebut – sebut sebagai ratu cengek alias ratu cabe. Hehe. Berbeda 180 derajat dengan pak Zak asal Papua. Cabe baginya seperti racun perut yang tak akan disentuh. Dia tidak habis pikir, kenapa orang suka berpedas – pedas dimulut padahal makanan yang enak logikanya tidak akan membuat mulut dan perut susah. Begitu juga pak Riyad-dosen asal Aceh. Namun penyuka sambal, dan selera pedas tetap menjadi mayoritas dari kami peserta dosen magang yang tinggal di asrama.

Dari  diskusi yang cukup panjang, alhamdulilah kami mendapatkan tawaran solusi yang nampaknya  tidak lagi diperdebatkan. Bu Tika-dosen asal Politeknik Palcomtech Palembang- bersedia masak dua kali dalam sehari yakni malam dan di pagi hari sebelum berangkat ke kampus. Namun tidak untuk urusan cuci piring dan bersih-bersih dapur. Belanja ke pasar tiap habis subuh juga harus ada yang menemani. Akhirnya kami sepakat juru masaknya Bu Tika, sedangkan  mencuci piring  dan membersihkan dapur digilir perkamar dari senin hingga sabtu. Termasuk giliran dalam mendampingi Bu Tika pergi belanja ke pasar Dago yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari asrama. Uang patungan makan dipatok Rp 50.000 per minggu. Sangat ekonomis untuk ukuran biaya makan kami di kota Bandung.

Khusus hari minggu kami free. Bebas aktivitas dapur dan kebanyakan memang makan diluar asrama karena hari minggu biasanya semua penghuni asrama jalan keluar dengan acaranya masing – masing. Namun tidak jarang masak menu – menu favoritnya masing masing. Bu Tika dengan empek-empek Palembangnya, Bu Novi dengan masakan ikan asin khas NTT,  atau kadang pak Muhi-dosen asal Poltek Bosowa dengan resep andalan bebek palekonya. Alias bebas berekspresi!!!!.

Berikut komposisi kelompok kerja dapur dan sekaligus satuan pengantar belanja ke pasar tradisional Dago khusus bagi kamar laki- laki:

Nomor Kamar Personil Jadwal Dapur
Kamar 1

Kamar 2

Kamar 3

Kamar 4

Kamar 5

Kamar 6

Zak, dan Petrus

Nur Jayadi, dan Muhira

Farida, Novi, Nisa dan Tika

Imelda, Dini

Rudi, Ghozi

Mas Bro dan Riyad

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

Keterbatasan uang dari di dikti membuat kami harus berpikir bagaimana mengelolanya. Terlebih kami berada dikota Bandung. Indeks kemahalan di kota ini juga terkenal tinggi diantara kota- kota pendidikan lainnya di Indonesia. Dengan solusi kebersaman yang baik, tidak saja mampu menghemat, namun juga membangun ikatan kebersamaan dan kekompakan. Itulah ternyata nilai lebih yang kami dapatkan dari sebuah keterbatasan.

Jika saja uang dari dikti berlebih, mungkin kami peserta magang juga tidak akan dipaksa untuk rapat berkali-kali. Berdebat dan dan saling tukar pertimbangan bagaimanan mengelola uang makan dan transportasi, sehingga kami bisa cepat mengenal karakter dan cara pandang masing –masing peseta magang yang berasal dari Aceh hingga Papua.

Terlihat mudah memahami sisi manfaat dari sebuah kebersamaan. Tapi meraih titik temu  tidak semudah yang dibayangkan. Dan syukurlah, ikatan emosi satu profesi, satu tujuan untuk meraih ilmu baru dalam magang di ITB, dan kedewasaan kami sebagai seorang pendidik akhirnya memberikan satu kesepakatan bersama. Meski dalam perjalanannya ragam cara pandang, latar belakang dan kebiasaan bercampur baur membentuk kualitas konsistensi masing – masing anggota.

Pola kebersamaan tersebut  memang belum ideal, namun konsensus sederhana tersebut merupakan salah satu awal pembauran diantara kami yang natural. Dan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami para dosen muda yang berasal dari seluruh pelosok nusantara.

Iklan

Penulis: Saiful ghozi

Lulus sarjana Pend Matematika Univ. Neg. Malang thn 2005. Mengajar di berbagai sekolah CSR perusahaan; PT SBK Melawi Kalbar, PT Kertas Nusantara Berau Kaltim, PT Chevron dan Total E&P Balikpapan. Setelah lulus pascasarjana di Unmul Samarinda thn 2013, kini menjadi dosen tetap di Politeknik Negeri Balikpapan Kaltim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s